PENDEKATAN STUDI WILAYAH DALAM STUDI ISLAM
Oleh : Marasakti Bangunan, S.Ag.
Nim. 08/KOMI/1374

A PENDAHULUAN
Sebagai fenomena universal yang kompleks, keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial, tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial.
Islam, sejak kemunculannya pada awal abad ke-7 masehi, membuat Barat (Eropa) serba “tidak enak”. Apalagi ketika Arab-Islam (kurang lebih pada abad ke-8 dan ke-11 M) sedang berada di puncak peradaban dunia yang membawa pengaruh besar dari segi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan yang terpenting pengaruh ilmu pengetahuan terhadap bangsa-bangsa lain. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia-Afrika, tetapi sampai pada kawasan Eropa.
Dengan latar belakang psiko-historis di atas. Islam pada abad-abad lampau itu dicurigai, ditakuti tapi diam-diam juga dicemburui dan dikagumi. Perasaan-perasaan ini semakin mengental menjadi ketertarikan untuk mengkaji dunia Timur ketika adanya kebutuhan akan kekuasaan kolonial Eropa Barat untuk belajar dan memahami masyarakat yang mereka kuasai. Maka tidak heran bila sistem pengetahuan Orientalisme selama berabad-abad menjadi alat kepentingan kolonialisme. Akan tetapi ketika kolonialisme yang memayungi corak Orientalisme abad 18, 19, dan 20 lenyap, justru Orientalisme itu sendiri semakin terlembaga. Dengan otoritas akademis dan tradisi literatur yang berwibawa, Orientalisme pasca kolonial ingin menjadi suatu “obyektivitas ilmiyah” dalam melihat Timur dan ketika kajian orientalisme sebagai obyek kemudian dilakukan di beberapa universitas Muslim yang lebih lanjut mengilhami studi akan budaya Barat yang dilihat dari sudut pandang dan prespektif “selain” Barat. Kajian ini menekankan faktor subyektifitas Timur dalam membaca dan mengkaji Barat, inilah kemudian yang disebut ‘ilmu Oksidentalisme
Studi Wilayah sebagai sebuah disiplin imu mencoba memahami latar belakang budaya, cara hidup, cara pikir, dan ciri khas masing-masing wilayah/region, agar dapat bisa diambil sikap atau antisipasi, terutama di era globalisasi, yang telah meruntuhkan sekat-sekat kewilayahan. Pendekatan kawasan ini dapat digunakan untuk menjelaskan hasil penelitian tentang suatu masalah dimana masalah itu terjadi misalnya studi Islam yang ada di Timur Tengah, Eropa, Afrika, Asia Tenggara, dan lain sebagainya. Eksistensi Islam pada masing-masing kawasan tersebut memiliki warna tersendiri sesuai dengan latar belakang wilayah tersebut, termasuk pengaruh budaya/tradisi-adat istiadat, politik, ekonomi dan lain-lain.
Maka makalah singkat ini coba menjelaskan pengertian dan latar belakang Studi Wilayah, Orientalisme ; Asal, Perkembangan dan keberadaannya saat ini, Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang Dunia Islam Sebagai sebuah kajian Wilayah (Dunia Islam dimaksud adalah : Timur Tengah, Timur Dekat, Asia Tenggara dan Indonesia), Selanjutnya mengupas beberapa persoalan mengenai Problematika Pendekatan Kajia Wilayah dalam Studi Islam serta pada bagian akhir pembahasan mengupas signifikansi dan kontribusi Kajian Wilayah dalam studi Islam.
B PEMBAHASAN
1. Pengertian, Latar Belakang Dan Perkembangan Studi Wilayah
Studi Wilayah dikenal sebagai “area studies” atau “regional studies” yang berarti studi tentang potensi wilayah/negera tertentu dari berbagai aspek. Studi Wilayah bertujuan mengidentifikasi dan mengurai potensi wilayah/negara tertentu dari sisi bahasa, sastra, sejarah, budaya, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Studi Wilayah juga dapat menekankan pada satu disiplin, seperti studi wilayah dari sisi sejarah. Di Indonesia pada umumnya studi wilayah pada bidang kemampuan berbahasa .
Menurut Abdullah Dahana Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) bahwa kurikulum pengajaran studi wilayah, yang sekitar 50 persennya merupakan kemampuan berbahasa, dinilai sudah tepat. Namun, untuk memenuhi tuntutan globalisasi harus banyak dimasukkan ilmu-ilmu lain, seperti sosiologi, sejarah, komunikasi antar budaya, multikulturalisme, politik, dan studi keanekaragaman budaya.
Setidaknya ada tiga sebab utama pentingnya studi wilayah di Indonesia:
a) . Membantu reorientasi pembangunan (termasuk dibidang pendidikan) yang sesuai dengan geografis Indonesia.
b) . Impaks dunia luar tehadap indonesia
c) . Mendidik ahli wilayah yang dapat dihandalkan kedepan.
Salah satu potensi studi wilayah yang terabaikan, adalah sumbangannya untuk mencegah disintegrasi bangsa. Dengan memahami latar belakang budaya, cara hidup, cara pikir, dan ciri khas masing-masing daerah, bisa diambil sikap antisipasi terhadap kemungkinan perpecahan. Karena era globalisasi, yang meruntuhkan sekat-sekat kewilayahan, harus disikapi dengan mengubah kurikulum studi kewilayahan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Studi wilayah perlu di kembangkan baik dalam rangka reorientasi kurikulum studi kewilayahan di Perguruan Tinggi di Indonesia, juga dalam rangka menentukan orientasi pembangunan kedepan. Terutama studi wilayah negara-negara yang berkaitan erat dengan posisi indonesia dari segi politik, ekonomi, pertanahan dan kemanan, seprti studi wilayah tehadap negara-negara ASEAN, Eropa, dan Timur Tengah. Dengan pengembangkan studi wilayah seperti itu maka Indoenesia akan memiliki ahli-ahli wilayah yang memeiliki pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat, proses politik, ekonomi dan kekuatan hankam negara yang menjadi objek studi.
2. Orientalisme: Asal, Perkembangan Dan Keadaan Komtemporer

Orientalisme berasal dari kata orient bahasa Perancis, yang secara harfiah bererti timur dan secara geografis berarti dunia belahan timur dan secara etimologi berarti bangsa-bangsa di timur. Kata orientalisme memasuki berbagai bahasa di Eropa termasuk bahasa Inggris. Oriental adalah sebuah kata sifat yang berarti hal-hal yang bersifat Timur yang sangat luas ruang lingkupnya. Suku Kata Isme (Belanda) dan ism (Inggris) menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi Orientalisme berarti suatu paham atau aliran yang berkeinginan meneyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan denga bangsa-bangsa di Timur beserta lingkungannya .
Studi Orientalisme memiliki pengertian yang sangat luas, namun secara sederhana dapat diartikan studi tentang budaya dan peradaban “orient” (Timur), yaitu yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan sejarah bangsa-bangsa di dunia Timur, seperti studi tentang archeology, history, linguistics, religion, literatures (sastra), customs (adat istiadat), ethnology (etnik), politik, economi, geografi dan lain-lain. Selanjutnya Orientalisme juga tidak hanya studi beberapa peradaban di dunia Timur (Islam) semata, tetapi juga mencakup budaya-budaya Cina, India, Mesir, dan juga Lembah Tigris-Eufrat .
Sepanjang perkembangan sejarah, kajian orientalis tentang Islam dan kaum Muslim pada umumnya telah mengalami pasang surut dan memiliki fase-fase kekhususannya sendiri. Ada beberapa tahapan penting dalam sejarah terbentuknya Orientalisme.
Pertama, tanggapan awal kedatangan dan perkembangan Islam (sejak abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi). Pada masa itu kesan Barat tentang Islam dan kaum Muslim tidak akurat dangan sangat negatif. Menurut W. Montgomery Watt ada “citra standar” masyarakat Eropa—yang telah dibangun oleh para teolog Kristen—tentang Islam. Kesan-kesan tersebut adalah: Islam merupakan agama yang keliru dan merupakan pemutarbalikan secara sengaja terhadap kebenaran Kristen; Islam adalah agama yang disebarkan melalui kekerasan dan pedang; Islam adalah agama hawa nafsu; dan Muhammad adalah anti Kristus. Di samping empat citra tersebut, mereka juga memandang al-Qur’an sebagai kitab suci palsu buatan Muhammad sendiri dengan mengambil bahan-bahan dari perjanjian lama, perjanjian baru dan dari kaum murtad. Anggapan para teolog dan ahli Kristen semacam itu terhadap Islam disebabkan sikap permusuhan mendalam yang muncul dari ekspansi Islam ke wilayah-wilayah yang dikuasai Bizantium, juga karena terbatasnya informasi lebih akurat yang mereka dapatkan tentang Islam .
Kedua adalah era pasca Perang Salib. Kalau pada tahapan pertama para penyelidik masih mempunyai jarak dengan kaum Muslim di belahan Timur, maka pada tahapan kedua ini setelah beberapa gelombang Perang Salib di jantung kota Arab-Islam, ilmuwan-ilmuwan dan sarjana-sarjana Barat yang menyertai misi suci tersebut dengan leluasa berkenalan lebih dekat dengan sumber-sumber asli peradaban Islam. Dan karena sumber-sumber itu semuanya berbahasa Arab, maka mendorong munculnya studi filologi bahasa Arab sehingga pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 dimulailah gerakan Orientalisme yang sebenarnya. Beberapa tokoh yang menfokuskan pada kajian bahasa Arab di antaranya adalah: Guillaume Postel (1540-1581), Thomas Van Erpe (1584-1624), Francis Van Ravelingen (1539-1597), Jacob Golius (1596-1667), dan George Sale (1697-1736) . Seiring dengan keberadaan tokoh-tokoh ini, pusat-pusat kajian keislaman didirikan di kota-kota penting Eropa. Pada 1539 departemen bahasa Arab didirikan di College de France Universitas Sorbonne Prancis. Pada 1613 di Belanda didirikan sebuah institut buat kajian yang sama. Dan pada waktu yang bersamaan Oxford dan Cambridge menyusul mendirikan kajian ke-Timur-an di mana kajian Arab-Islam merupakan yang terpenting . Akhirnya, pada abad ke-18 ditandai keinginan untuk melihat Timur-Islam dalam sudut pandang yang lebih memadai. Implikasinya, yang dibutuhkan lebih dari sekedar kajian-kajian filologis.
Ketiga, yaitu era Kolonialisme dan Imperialisme Eropa ke hampir ke seluruh negeri dan bangsa non-Barat, khususnya dunia Islam. Orientalisme pada tahap ketiga ini merupakan “ajudan” para kolonialis dan alat yang paling ampuh buat mendalami kondisi sosio-historis negeri-negeri jajahan Barat. Pada masa ini dunia Timur tidak lagi menjadi obyek kajian atau obyek studi (yang murni), tetapi telah menjadi obyek kekuasaan dan kesewenang-wenangan bangsa yang lebih kuat. Dan yang mengiringi periode kolonialisme ini adalah ide Evangelisme (penginjilan). . Ide dasar Evangelisme adalah bahwa keselamatan (salvation) terletak hanya pada pengakuan dosa dan penerimaan gospel Kristen. Evangelisme menciptakan konfrontasi antara Kristen Eropa dan Muslim dalam skala lebih besar daripada masa-masa sebelumnya karena pertumbuhan aktivitas misionaris terorganisasi dan perluasan kekuasan Eropa atas wilayah-wilayah Muslim. Menurut Azyumardi Azra, pada permulaan abad ke-19 (ketika kolonialisme dan imperialisme mencapai puncaknya), setidaknya terdapat dua model citra Eropa terhadap Islam. Pertama, menganggap Islam menjadi musuh dan rival Kristen. Kedua, menganggap Islam sebagai bentuk pencapaian akal dan perasaan manusia dalam usaha mereka untuk mengetahui dan merumuskan sifat Tuhan dan alam
Pada perkembangan selanjutnya, Orientalisme bukanlah sebagai kajian obyek yang mempunyai metode tersendiri, tetapi ia kini menjadi obyek kajian, yaitu setelah terbukanya “keburukan-keburukan” Orientalisme melalui kritik yang datang baik dari kalangan luar (Muslim) seperti yang dilakukan A. L. Tibawi, Anwar Abdul Al-Malik, dan Abdallah Laroni, serta dari kalangan dalam sendiri (Barat), misalnya oleh Edward Said, Foucoult, Recourr, dan Bourdeau . Orientalisme tidak lagi menjadi karir yang patut dibanggakan, bahkan sebaliknya, para pengkaji ke-Timur-an dari Barat akan merasa risih untuk disebut dirinya sebagai orientalis, karena istilah tersebut sangat pejoratif. Mereka lebih suka untuk dipanggil “Islamolog”, “Egypolog” dan sejenisnya. Kajian Orientalisme sebagai obyek kemudian dilakukan di beberapa universitas Muslim yang lebih lanjut mengilhami studi akan budaya Barat yang dilihat dari sudut pandang dan prespektif “selain” Barat. Kajian ini menekankan faktor subyektifitas Timur dalam membaca dan mengkaji Barat, inilah kemudian yang disebut ‘ilmu Oksidentalisme’
Studi Okisidentalisme yang di gagas oleh Hasan Hanafi lewat bukunya yang berjudul Muqaddimah fil ilmi Istighrab, mengajak umat Islam mengkritik hegemoni cultural, politik, dan ekonomi Barat yang berlindung di balik baju orintalisme. Kemunculan Oksidentalisme di akhir abad ke XX diorientasikan untuk membebaskan dunia Timur dari cengkraman Barat. Hanya saja ego oksidentalisme lebih obyektif, netral dan lebih bersih dari ego-nya Orinetalisme.
3. Dunia Islam Sebagai Objek Kajian Wilayah : Timur Tengah, Timur Dekat, Asia Tenggara dan Indonesia.

Islam, sejak kemunculannya pada awal abad ke-7 masehi, membuat Barat (Eropa) serba “tidak enak”. Apalagi ketika Arab-Islam (kurang lebih pada abad ke-8 dan ke-11 M) sedang berada di puncak peradaban dunia yang membawa pengaruh besar dari segi politik, sosial, ekonomi, budaya, terhadap bangsa-bangsa lain. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia-Afrika, tetapi sampai pada kawasan Eropa.
Kini Islam telah tersebar diseluruh pelosok dunia, Islam tidak hanya subur di tempat kelahirannya (Arab-Timur Tengah), tetapi Islam juga berkembang di kawasan Eropa (Barat). Dan kawasan lainnya, Namun fenomena Islam dikawasan timur tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia sering menjadi objek pembahansan actual.
Timur Tengah adalah terjemahan dari “Middlle East” suatu istilah yang sejak perang dunia II digunakan orang Inggris dan Amerika Serikat untuk menyebut kawasan sebagian besar terletak di Asia Barat Daya dan Afrika Timur Laut. Istilah itu berasal dari perluasan wilayah komando militer Inggris yang mula-mula mencakup negara-negara disebelah Timur Terusan Suez, sebagai persiapan perang. Dalam perang itu istilah tersebut menajdi lazim dan hampir sama sekali menggantikan istilah-istilah yang lebih tua seperti Near East dan Levant, secara kasar Timur Tengah dibagi menjadi dua, yaitu dunia Arab dan dunia bukan Arab, Sedangkan secara detail tidak ada kata sepakat negara-negara mana yang termasuk kawasan Timur Tengah,.
Timur Tengah mempunyai posisi geografis yang khas dan lain daripada yang lain. Kawasan ini merupakan wilayah yang terletak pada pertemuan Eropa, Asia, dan Afrika, dan dengan demikian ia menguasai jalur-jalur strategis yang menuju ke ketiga benua tersebut. Banyak orang yang tergoda untuk menyebutnya pusat belahan Timur. Sejak masa lampau sebelum tarikh Masehi, Jalan darat dan jalan laut terdekat dan yang paling nyaman dari Eropa ke Asia adalah melalui Timur Tengah. Di masa lalu, hal ini terkenal dengan istilah “Silk Road” (Jalur Sutera). Hampir setiap imperium besar dalam sejarah dunia pernah menguasai seluruh atau sebagian wilayah ini, atau seringkali iri melihatnya.Seorang pengamat Timur Tengah yang bernama Marshall C.G. Hodgson mengungkapkan bahwa apa yang dimaksud dengan “Timur Tengah” adalah wilayah-wilayah yang membentang dari Sungai Nil di sebelah Barat hingga ke sungai Oxus di sebelah Timur (from Nile To Oxus ) .
Dalam kaitannya dengan perkembangan peradaban dunia, setelah awal kemunculannya di abad ke-7 Masehi, Islam telah meletakkan fondasi yang kokoh selama beratus-ratus tahun kemudian dalam membangun suatu peradaban yang teramat tinggi di kawasan Timur Tengah. Karena Islam menjadi nafas utama dalam peradaban ini,
Dewasa ini Timur Tengah adalah kawasan yang telah mengalami perubahan revolusioner dan tampak sekali dalam kehidupan politik dalam negeri, ekonomi, struktur masyarakat, dan hubungan internasionalnya, Paham sekularisme telah merasuk sedemikian rupa terhadap sendi-sendi kehidupan bernegara, Kawasan ini sedang mengalami peralihan umum dari tradisionalisme menuju modernisme, Timur tengah bukanlah suatu kesatuan yang bulat, bahkan kerapkali terjadi perselisihan, dan dalam hubungannya dengan dunia Barat terjadi pro dan kontra, selain itu terdapat pula negara-negara yang panatis-konservatif dan moderat-revolusioner terhadap Islam.
Sepertinya sulit untuk menciptakan persatuan di kalangan para Pemimpin Negara Arab. Hal ini diakibatkan oleh beberapa factor, yaitu perasaan Tribalisme yang masih kuat di kalangan bangsa Arab, sulitnya mencari figure yang bisa dijadikan pemimpin bangsa Arab, karena besarnya ego para pemimpin negara-negara Arab, perbedaan aliran dan kredo dalam agama Islam itu sendiri yang seringkali menajdi masalah yang amat sensitive (khususnya antara Sunni dan Syi’ah) serta adanya campur tangan pihak-pihak asing, khususnya negara-negara Barat yang berkepentingan demi menjaga kelancaran pasokan minyak ke negara mereka masing-masing . Apa yang disebut dengan Pan Arabisme masih merupakan cita-cita, Liga Arab yang yang dibentuk sebagai alat pemersatu masih terbentur dengan perbedaan kepentingan yang kontradiktif .
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa Timur Dekat adalah istilah yang lebih tua dari Timur Tengah, Hal ini diilhami oleh pemahaman orang-orang Eropa yang menganggap bahwa wilayahnya terdapat di belahan bumi bagian Barat, sehingga daerah lain yang berada jauh dari wilayahnya disebut sebagai bumi belahan Timur. Oleh karena itulah mereka menamai wilayah kekaisaran China dan sekitarnya sebagai “Timur Jauh” (Far East). Sedangkan kawasan jazirah Arabia dan sekitarnya, yang terletak diantara daratan Eropa dan Negeri China, disebut sebagai “Timur Dekat” (Near East). Selain mencakup Asia Barat Daya, istilah Timur Dekat juga mencakup wilayah-wilayah Eropa Tenggara yang pada masa lampau pernah berada dalam kendali kekuasaan Imperium Uthmaniyah.
Islam di Asia Tenggara merupakan bagian integral dari Dunia Muslim, dan karena itu sepatutnya mendapat perhatian dari lingkungan Muslim di tempat-tempat lain, termasuk di Timur Tengah. Islam di kawasan Asia Tenggara dalam persepsi Timur Tengah sering dipandang sebagai “Islam yang tidak murni”. Bukan rahasia lagi, bahwa bahkan pakar, cendekiawan, dan ulama Indonesia atau Malaysia yang ahli tentang Islam, seperti dalam bidang hadis, fikih, tafsir, dan sebagainya oleh kalangan ulama dan akademisi di Timur Tengah dianggap bukan ahli Islam yang sesungguh-sungguhnya.
Kenyataan yang tidak atau kurang menguntungkan tersebut tidak hanya terkait dengan persepsi di kalangan masyarakat dan akademisi Timur Tengah sendiri. Saya kira juga terkait dengan kurangnya promosi di Timur Tengah tentang kajian-kajian Islam di Asia Tenggara atau Indonesia. Memang, di beberapa universitas Timur Tengah seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Ain Syams, atau Universitas Kairo beberapa mahasiswa Indonesia dan Malaysia menulis tesis atau disertasi tentang aspek-aspek tertentu Islam di tanah air mereka, seperti fikih, tasawuf, atau ulama tertentu Melayu-Indonesia. Tetapi, kelihatannya tesis dan disertasi ini belum memadai untuk mempromosikan kajian Islam Asia Tenggara di Timur Tengah.
Di kalangan universitas Timur Tengah sendiri sangat sulit mencari pakar yang memiliki spesialisasi tentang Islam di Dunia Melayu-Indonesia. Hanya ada satu dua pakar saja di Timur Tengah yang cukup ahli tentang Islam di Asia Tenggara; keterbatasan kuantitatif ini membuat mereka sulit mengembangkan institusi kajian Islam di Asia Tenggara. Namun kemudian ada pergeseran yang signifikan dalam memandang Islam di Asia Tenggara. Sejak era 80an, banyak sarjana yang mulai memandang Islam Asia Tenggara dengan semestinya. Jika dikaitkan dengan kecenderungan akademik global, berkembangnya area studies (studi kewilayahan) memberikan peluang bagi Islam untuk dijadikan bahasan. Selama ini studi keislaman selalu masuk dalam wilayah kajian Timur Tengah (Middle Eastern Studies).
Perubahan pandangan itu bukan saja karena secara jumlah umat Islam di Asia Tenggara adalah jumlah terbesar di dunia, melainkan karena adanya pengakuan akan kekhasan Islam di Asia Tenggara. Perbedaan manefestasi keagamaan di Asia Tenggara dengan yang ada di Timur Tengah tidak lagi disikapi sebagai sebuah “ketidak murnian, tetapi justru kekayaan budaya keislaman”.
Sinkretisme Islam bukanlah hal yang tabu, karena ternyata hal itu juga terjadi di wilayah lain, termasuk apa yang terjadi di Timur Tengah sendiri. Perbedaan manifestasi keagamaan itu seharusnya dilihat sebagai sebuah cara bagaimana umat Islam di wilayah tertentu menerjemahkan Islam sesuai dengan realitas budayanya.misalnya tulisan Arab Jawi atau pegon sesungguhnya merupakan kekayaan Islam di wilayah Asia Tenggara, karena menggabungkan antara tradisi agama dengan tradisi lokal.
Islam di Asia Tenggara juga dipandang sebagai representasi “lain” yang positif dari wajah Islam yang banyak digambarkan sebagai “penuh kekerasaan dan sangat agresif” yang ada di Timur Tengah. Kemampuan Islam di Asia Tenggara untuk beradaptasi dengan budaya lokal dan dapat menampilkan wajahnya yang ramah dan toleran menjadi penawar bagi potret Islam yang keras dan agresif tersebut. Islam di Asia Tenggara memberikan contoh yang baik bagaimana sebuah agama dapat berkembang dalam masyarakat yang plural dan multi etnis.
Islam Asia Tenggara juga mempunyai kredit dalam masalah berhubungan dengan Barat. Walaupun hubungan intelektual dengan Timur Tengah terus terjalin, Islam Asia Tenggara membuka hubungan intelektual dengan pusat-pusat peradaban Barat. Kalau sebelumnya perdebatan wacana keagamaan didominasi oleh mereka yang belajar ke Timur Tengah, sekarang perdebatan itu beragam dengan masuknya alumni-alumni universitas Barat.. Akibatnya adalah, umat Islam di Asia Tenggara dapat dengan akrab berdiskusi dengan isu-isu global seperti civil society atau masyarakat madani, demokrasi, isu-isu gender, isu hak asasi manusia dan lain-lainnya. Di Indonesia misalnya, political will masyarakat Indonesia untuk mengusung demokrasi setelah kejatuhan rezim Orde Baru membuktikan akan kesiapan umat Islam Indonesia untuk membuka pintu bagi wacana-wacana global.
Tetapi belakangan, wajah Islam Asia Tenggara yang toleran, ramah, liberal dan modern tiba-tiba dikejutkan dengan berita-berita tentang gerakan Islam radikal. Berita-berita di media lokal maupun media asing menyuguhkan tentang kecenderungan radikal umat Islam di Indonesia. Islam di Asia Tenggara menjadi “hot news” dalam bentuk yang sangat berbeda; Islam Asia Tenggara menjadi “the nest of terrorism” (sarang terorisme). Dari berita tentang fatwa Jihad hingga perjuangan menerapkan Syari’at Islam di Indonesia tak henti-hentinya menjadi topik pembicaraan.
Kemunculan Islam garis keras di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor. Pertama, faktor pemahaman keagamaan literal telah mengakibatkan adanya kecenderungan “keras” dalam mempraktekkan agama.Kedua, adanya interaksi Muslim Indonesia dengan dunia Muslim internasional. Hal itu dimungkinkan lewat informasi media maupun internet yang dapat diakses dengan mudah. Hubungan dengan Muslim international dimungkinkan karena difasilitasi mobilitas Muslim Indonesia ke luar negeri baik melalui jalur kerja—seperti ke Saudi dan Malaysia—ataupun atas nama solidaritas sesama Muslim—ikut berperang di Afghanistan maupun Mindanau. Ketiga, faktor politik global—demokrasi—yang tidak dapat dibendung lagi. Bagi kalangan tertentu—terutama mereka yang berpaham literal—melihat demokrasi sebagai ancaman terhadap eksistensi sistem politik yang berlandaskan agama .
Apakah betul wajah Islam telah berganti? Kemana wajah Islam yang ramah dan toleran dulu? Secara jujur harus dikatakan bahwa mainstream Islam di Indonesia masih tetap Islam yang ramah dan toleran. Dua organisasi besar di Indonesia NU dan Muhammadiyah yang menjadi naungan mayoritas Muslim Indonesia adalah penyebar dari pemahaman Islam yang ramah dan toleran.

4. Problematika Kajian Wilayah Dalam Studi Islam

Pendekatan kewilayahan (region) dalam studi Islam amat diperlukan dalam upaya memahami Islam secara universal, Pendekatan kewilayahan bukan hanya didekati dari sisi kewilayahan administratif, akan tetapi juga pendekatan-pendekatan kewilayahan lainnya yang sesuai dengan kondisi wilayah dan potensi masyarakat, ada beberapa pendekatan kewilayahan lainnya, seperti pendekatan wilayah dari sisi histories masuknya agama Islam ke wilayah tersebut, pendekatan wilayah dari social budaya, pendekatan wilayah dari segi linguistic (sastra dan kebahasaan), pendekatan wilayah dari segi politik dan dasar negara dan pendekatan kewilayahan lainnya.
Jika demikian keadaannya maka studi orientalisme dan oksidentalisme adalah bahagian dari studi wilayah, tetapi studi wilayah tidak hanya focus pada kawasan Timur dan Barat semata. Karena studi Wilayah juga dapat dilakukan “kedalam”, maksudnya ke kawasan sendiri, guna melihat perkembangan budaya dan peradaban dalam negeri dan lain-lain untuk kepentingan pembangunan kedepan sebagaimana disebutkan diatas.
Bila dikaitkan dengan agama maka “ruang gerak” agama sangat terkait dengan iklim kawasan, karena setiap wilayah/negara tidak sama dalam memposisikan agama, baik dari sudut pemerintahan, politik, dan dasar negara. Akan lebih berbeda lagi bila konteks ruang gerak agama itu dikorelasi dengan social budaya.
Budaya dan cultural masyararakat beretnis heterogen tentu berbeda dengan yang beretnis homogen, afiliasi pemerintah kepada mazhab (teologi/fiqh) tertentu akan berbeda aplikasi/pengamalan agamanya dengan wilayah/region yang sama sekali tidak mengurusi hal itu. Maka dapatlah dikatakan bahwa kajian Islam dengan berbasis wilayah menggiring kepada suatu kesimpulan bahwa masing-masing wilayah memahami agama sesuai dengan iklim wilayahnya sendiri.
Di tengah-tengah perbedaan itu, Islam—dengan karakter yang luwes—mengadopsi budaya lokal untuk memperkaya khasanah pengalamannya keislamanya. Perbedaan dalam menerjemahkan keislaman diberbagai wilayah termasuk di Indonesia sesungguhnya adalah, meminjam istilah Marshal Hodgson, “mosaic” yang memberikan keindahan gambar Islam dalam bentang budaya yang plural. Makanya tidak mengherankan jika Asia Tenggara mempunyai variasi karakter keislaman yang khas; ada Melayu, Aceh, Jawa, Bugis, Banten, Sunda, Patani, Mindanau, Brunei dan sebagainya. Demikian juga timur tengah dan eropa dengan gaya dan cirri khas masing-masing.
Selanjutnya memang sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. Karenannya kajian tentang pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia, tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah “takdir sosial” yang tak perlu lagi dipahami.
Selanjutnya pendekatan wilayah dalam kajian islam membutuh disiplim ilmu lain, seperti isejarah, antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, arkeologi, linguistic, dan disiplin ilmu lainya yang mendukung proporsionalnya pemahaman tentang wilayah/negara yang dimaksudkan.
5. Signifikansi Dan Kontribusi Pendekatan Ini Dalam Studi Islam

Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktik ritual agama. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang lebih tua-adalah sebuah bukti dari keterpautan antara nilai agama dan kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.
Kenyataan yang demikian itu juga memberikan arti bahwa perkembangan agama dalam sebuah masyarakat-baik dalam wacana dan praktis sosialnya-menunjukkan adanya unsur konstruksi manusia. Walaupun tentu pernyataan ini tidak berarti bahwa agama semata-mata ciptaan manusia, melainkan hubungan yang tidak bisa dielakkan antara konstruksi Tuhan-seperti yang tercermin dalam kitab-kitab suci-dan konstruksi manusia-terjemahan dan interpretasi dari nilai-nilai suci agama yang direpresentasikan pada praktek ritual keagamaan. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya-primordial-yang telah melekat di dalam dirinya. Hal ini dapat menjelaskan kenapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Kajian komparatif Islam di Indonesia dan Maroko yang dilakukan oleh Clifford Geertz misalnya membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Di Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik, sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya.
Namun sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayah-wilayah lain. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia, jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat, menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang dapat diikuti oleh manusia. Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Keberagaman sosial budaya yang ada di seluruh kawasan dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama.
Studi Islam melalui pendekatan studi wilayah menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. Karena dalam pandangan ilmu sosial, keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya, melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. Jadi jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama.
Mempelajari realitas kehidupan manusia, dapat dilakukan dari sudut wilayah dengan segala aspeknya, sebab masing-masing wilayah/region meiliki corak budaya yang beragam sebagai akibat dari pemahaman yang berbeda terhadap agama dari sumber normatifnya, Maka untuk itu pendekatan wilayah dalam studi Islam tidak dapat berdiri sendiri tanpa ilmu bantu lainnya seperti sosilogi, antropologi dan ilmu-ilmu social lainnya. Maka dengan demikian akan diketahui corak keberagamaan sebuah wilayah dengan proporsional dan utuh.
Misalnya sebagai sebuah wilayah kajian maupun sebagai salah satu area kajian, Islam di Asia Tenggara dan Indonesia khususnya pada awalnya tidak menarik perhatian. Meskipun demikian, dalam perkembanngannya, dengan memakai ukuran apapun Islam di Asia Tenggara merupakan suatu komunitas Muslim penting. Tidak saja karena jumlah penduduk Muslim yang hampir separuh dari penduduk dunia Islam-dengan Indonesia yang mencapai 80 % dari 200 juta– tetapi juga karena perkembangan Islam di Asia Tenggara termasuk paling mengesankan.Ada beberapa alasan mengapa Islam di Asia Tenggara mendapat perhatian.
Pertama, Pergumulan intelektual Muslim Asia Tenggara dengan ide-ide gender, demokrasi, civil society ataupun human rights menempatkan Islam Asia Tenggara sebagai pelopor, atau paling tidak yang paling inten mengikuti perkembangan ide-ide global tersebut.
Kedua, corak pendidikan para intelektual Muslim di Asia Tenggara yang lebih menerima ide-ide ilmu sosial yang berkembang di Barat, seperti misalnya Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, Anwar Ibrahim, Chandra Muzaffar dan lain sebagainya, dalam menerjemahkan maupun mengartikulasikan nilai-nilai normatif Islam.
Ketiga, beragamnya suku bangsa dan etnis di Asia Tenggara, memberikan suatu gambaran nyata bagaimana Islam dapat survive sekaligus membentuk suatu komunitas religious. Memang keunikan Islam di Asia Tenggara memberikan citra yang kurang jika dibandingkan dengan Islam yang ada di masyarakat Arab.
Menurut Abuddin Nata model pendekatan kawasan ini digunakan untuk mengkaji Islam secara komprehensif yang terdapat pada suatu wilayah atau kawasan sehingga antara Islam yang berada pada suatu kawasan dapat dibedakan dengan Islam yang ada dikawasan lainnya tokoh yang mendekati Studi Islam melalui studi Kawasan/Wilayah antara lain : John L Esposito, Islam in Asia, Religion, politics society, David D. Newson, Islam in Asia Ally or Adversary, Arthur Goldschmidht : a consice History Of middle East, Azyumardi Azra : Jaringan Ulama Timur Tengah dengan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.

C KESIMPULAN

Islam memiliki daya tarik luar biasa sebagai sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya dikaji. Terbukti, sejak lama Islam menjadi objek studi, tidak saja di kalangan muslim tetapi juga di kalangan non muslim, untuk tujuan dan kepentingan beragam. Titik perhatian studi Islam juga beragam, baik pada tingkat Islam sebagai system keyakinan maupun Islam sebagai suatu system sosial. Artinya, banyak kalangan yang mempelajari Islam pada level doktrin (Islam normative), demikian juga banyak kalangan yang mempelajari Islam dari sisi manifestasinya dalam kehidupan social atau Islam yang ‘menyejarah’ (Islam histories).
Obyek studi ini berkembang sangat pesat dalam tradisi keilmuan Timur maupun Barat. Hal ini mengambil bentuk pada disiplin kajian Islam (Islamic studies), yakni suatu frame scientific yang menelaah dialektika dan sintesa doktrin dan dimensi kesejarahan dalam masyarakat Islam. Dengan kata lain bahwa kajian Islam sasarannya adalah ajaran Islam dan masyarakat Islam itu sendiri. Pendekatan yang digunakan dalam kajian Islam juga beragam, sebagaimana dipresentasikan dan diartikulasikan melalui tradisi islamic studies di Timur (dunia Islam) dan Barat. Kajian Islam di dunia Timur, lebih didominasi oleh pendekatan yang berorientasi pada penguasaan substansi materi dan penguasaan atas hazanah keislaman klasik. Itulah sebabnya, obyek utama kajian Islam dalam tradisi keilmuan Timur, lebih berpusat pada studi teologi (ajaran) yang bersifat ahistoris, bukan pada artikulasi atau fenomena keberagaman masyarakat yang bersifat histories. Dari pendekatan ini, akhirnya lahir para ahli ilmu agama yang hanya menguasai substansi doktrin atau ajaran agama, seperti ahli tafsir, ahli hadis.
Berbeda dengan ini, Islamic studies di Barat, kajiannya lebih berorientasi pada Islam, sebagai realitas atau fenomena social, yakni Islam yang telah menyejarah, meruang dan mewaktu. Islam dikaji dan dipelajari hanyalah sebatas Islam sebagai ilmu pengetahuan. Pendekatan yang digunakan lebih dominasi oleh penggunaan disiplin ilmu-ilmu social dan humanities, bukan pada kajian teologis doktriner sebagaimana studi keislaman di Timur.

DAFTAR BACAAN

Abdullah, M. Amin, “Kita juga Memerlukan Oksidentalisme”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No 4, Tahun 1992.
As-Syaukani,A. Lutfi, “Oksidentalisme: Kajian Barat setelah Kritik Orientalis dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5 dan 6 Vol. V, Th. 1994.
Azra,Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme. Paramadina : Jakarta: 1996.
Bukchari,A. Mannan , Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah : Jakarta : 2006)
Dipoyudo,Kirdi, Timur Tengah Dalam Pergolaka. Centre For Strategic And Internationa : Jakarta, 1982.
Fauzi, Ihsan Ali, Orientalisme di mata Orientalis: Maxim Rodinson tentang Citra dan Studi Barat atas Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 2, Th. 1992.
Hodgson, Marshall C.G., The Venture of Islam, Conscience and History in a World Civilazation.” Volume One. The Classical Age of Islam. Book One : The Islamic Infusion : Genesis a New Social Order. Cetakan Pertama. Paramadina : Jakarta, 1999.
http://naskahkuno.wordpress.com/2007/01/22/wajah-islam-asia-tenggara tanggal . 21-10-2008.
Kompas (Humaniora) , Kamis, 19 Februari 2004.
Lenczowski, George, Timur Tengah Di Kancah Dunia. Alih Bahasa : Asgar Bixby. Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2003.
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta : Rajawali Press, 2007.
Sou’yb, M. Yoesub, Orientalisme dan Islam, Jakarta :Bulan Bintang, 1985
Tjeng,Lie Tek, Studi Wilayah Pada Umunya : Asia Tenggara pada Khususnya, Jilid 1, Bandung : Alumni, 1977.
Watt,W. Montgomery, “The Study of Islam by Orientalists”, diterjemah oleh Alef Theria Wasim dalam Journal al-Jami’ah, No. 53 Th. 1993.
—————————- The Influence of Islam on Medieval Europe, Edinburg University Press, 1972.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada..1998.