KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA YANG EFEKTIF
Oleh : Marasakti Bangunan

PENDAHULUAN
Budaya-budaya yang berbeda memiliki system-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain mengandung potensi Komunikasi lintas Budaya, karena kita selalu berada pada “budaya’ yang berbeda dengan orang lain seberapun kecilnya perbedaan itu
Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya itu dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul rasa tidak nyaman, timbul kesalahpahaman. Akibat kesalahpahaman ini dapat menimbulkan konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan dan pertentangan antar etnis.
Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman tersebut perlu dilakukan pembahasan dan pengakajian tentang komunikasi lintas budaya yang efektif. Termasuk diantaranya yang perlu dikaji adalah bahasa dan prilaku budaya orang lain serta prinsip-prinsip Komunikasi Lintas Budaya.
PEMBAHASAN
1) PENTINGNYA MEMPELAJARI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Kebutuhan untuk mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini semakin terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda secara regional maupun internasional, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.
Untuk merinci tujuan mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini Litvin (1977) menguraikan dari persfektif kognitif dan afektif, yaitu sebagai berikut :
a) Menyadari bias budaya sendiri
b) Lebih peka secara budaya
c) Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut
d) Merangsang pemahaman yang lebih besar
e) Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
f) Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri
g) Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.
h) Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan kedalam budaya sendiri; asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
i) Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya
j) Membantu menyadari bahwa system nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan dan dipahami.
Dari uraian Litvin diatas dapat dipahami bahwa mempelajari komunikasi lintas budaya memiliki manfaat yang cukup banyak, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Maka usaha untuk menciptakan komunikasi lintas budaya yang efektif itu menjadi suatu keharusan dan tak terelakkan., jika memang kita ingin komunikasi antar individu, atau antar individu dengan kelompok dimana pun berada. berjalan lancar dan harmonis.
2) EFEKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Semua orang pasti menginginkan komunikasi yang dibangunnya berjalan lancar dan efektif, hal ini sudah merupakan fithrah kemanusiaan, akan tetapi secara tidak sadar mereka melupakan faktor penghambat (noise) lancarnya sebuah proses komunikasi, noise dapat berasal dari internal maupun eksternal pribadinya.
Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan . secara sederhana kegiatan kamunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandanngan atas ide yang dipertukarkan tersebut.
Keberhasilan komunikasi banyak ditentukan oleh kemampuan komunikan memberi makna terhadap pesan yang diterimanya. Semakin besar kemampuan memberi makna pada pesan yang diterimanya, semakin besar pula kemungkinan komunikan memhami pesan tersebut, sebaliknya, mungkin saja seseorang komunikan banyak menerima pesan, tetapi ia tidak memahami makna pesan tersebut karena kurang mampu menafsirkan pesan tersebut.
Pada dasarnya komunikasi memang merupakan proses pemberian dan penafsiran pesan. Sebelum mengirim pesan komunikator mengolah dan mengkoding pesannya sedemikian rupa, sehingga pesan tersebut memenuhi tujuan kominikasi. Begitu juga komunikan ia akan mencoba menafsirkan pesan-pesan yang diterimanya dan memahami maknanya.
Jika makna yang dimaksud komunikator melalui pesan yang disampaikannya sama persis dengan apa yang dimaknai oleh komunikan terhadap pesan tersebut. Maka komunikasi dikatakan berhasil atau efektif, dalam arti telah tercapai persamaan makna pesan.
Menurut Gudykunst komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan kamunikasi dalam sekecil mungkin kesalahpahaman William Powers dan David Lowrey menyatakan komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang sejalan dengan kognisi (apa yang dipikirkan) dari dua atau tiga individu yang berkomunikasi
Untuk mencapai keberhasilan komunikasi, dibutukan sejumlah persyaratan tertutama jika komunikasi tersebut dilakukan dengan orang berbeda budaya, secara garis besar dikelompok kedalam dua yaitu : Term of Refrence/Kerangka Acuan. Dan Field of Experience/ Latar Belakang.
Misalnya ketika disebut kata Pesawat , jika yang dimaksud komuniator pesawat itu adalah pesawat terbang, demikian juga komunikan menafsirkan kata pesawat juga pesawat terbang, berarti komunikator dan komunikan memiliki term of refrence yang sama. Pada kasus lain misalnya ketika dicapkan bahwa cinta itu indah. Itu benar bagi mereka yang memiliki pengalaman yang indah tentang itu, tetapi tidak benar bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam cinta.
Selain bias kerangka acuan, kehadiran nilai-nilai, adat istiadat, kebiasaaan atau kepercayaan yang terdapat dalam suatu kebudayaan dapat mempengaruhi perbedaan pengalaman seseorang.
Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi antar budaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksud saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Suatu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesanyang dipertukarkan itu
Proses mencapai kesepakatan (sharing og meaning), lazimnya berlangsung secara bertahap, karena itu lebih awal kita perlu memperhatikan 5 (lima) sasarn pokok dalam proses berkomunikasi, yaitu :
a) Membuat pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita tunjukkan kepada mereka)
b) Membuat pendengar memahami apa yang mereka denganr atau lihat
c) Membuat pendengar menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar)
d) Membuat pendengar mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan maksud kita bisa mereka terima
e) Memperoleh umpan balik dari pendengar
Tentu tidaklah mudah untuk membuat sebuah komunikasi berjalan dengan mengahasilkan kesepakatan secara utuh sesuai tujuannya. Karena salah satu prinsip dalam berkomunikasi, yakni terdapatnya kesulitan-kesulitan pokok dalam mencapai tujuan.
Saudra Hybels dan Richard L. Weaver menyatakan bahwa komunikasi yang efektif harus memperhatikan beberapa syarat yaitu :
f) Jenis keterampilan kamunikasi macam manakah yang paling dibutuhkan ?
g) Jenis keterampilan berkomunikasi macam manakah yang dirasakan paling sulit ?
h) Jika ada kesulitan maka dimanakah seseoramg dapat memperoleh bantuan dan
i) Kapankah jadwal yang tepat untuk memperbaharui keterampilan berkomunikasi?
Hambatan dalam berkomunikasi cukup beraneka ragam, baik itu yang berasal dari internal maupun eksternal, Jika komunikasi dilakukan lewat saluran media massa, mungkin saja gangguan ada pada saluran tersebut. Misalnya cetakan yang kabur (tidak jelas) bagi media cetak, atau suara dan gambar yang tidak jelas bagi media elektronik audio visual dan lain sebagainya.
Secara sederhana dapat kami gambarkan pada table berikut hambatan-hamabatan dalam berkomunikasi yaitu :
JENIS-JENIS HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI
NO JENIS HAMBATAN DESKRIPSI
1 Fisik Yaitu hal-hal yang menyangkut ruang fisik, lingkungan dan lain-lain.
2 Biologis Hambatan karena ketidak sempurnaan anggota tubuh
3 Intlektual Hambatan yang berhubungan dengan kemampuan pengetahuan
4 Psikis Hambatan yang menyangkut factor kejiwaan, emosional, tidak saling percaya, penilaian mengahkimi dll
5 Cultural Hambatan yang berkaitan dengan nilai budaya, bahasa dll.
3) KESIMPULAN
Komunikasi merupakan aktifitas yang selalu dilakukan oleh manusia selama masih hidup dan berhubungan dengan manusia lainnya. Dalam proses komunikasi tersebut manusia sangat mendambakan komunikasi yang lancar dan efektif, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang menjurus pada konflik.
Dan pada hekekatnya seluruh keberhasilan proses komunikasi pada akhirnya tergantung pada efektifitas komunikasi. Yakni sejauh mana para partisipan nya memberi makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Pada gilirannya latar belakang budaya partisipan senantiasa berbeda walau sekecil apapun perbedaan itu akan sangat menentukan efektivitas itu. Oleh karenanya memahami makna budaya dan segala yang terakit dengan itu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan demi tercapainya komunikasi yang efektif.

DAFTAR BACAAN
Alo Liliweri MS, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta, LKiS, 2003.
Riswandi, Ilmu Komunikasi, Yogyakarta, graha Ilmu, 2009.
..Saudra Hybels & Richard L. Weaver II, Communicating Effectifely, New York : McGraw Hill 1992.
Tanti S, Dewi, Komunikasi efektif : http//dewistanti.woordpress.com diakses tgl. 01 Mei 2009.
William B Gudykunst, , Bridging dioffrences –effective Inter Group Communication, London : Sage Publication, 1991.

MENGEMBANGKAN KOMPTENSI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Oleh : Marasakti Bangunan

I PENDAHULUAN
Mengembangkan kemampuan berkomunikasi sangatlah penting, karena dalam dua dasawarsa belakangan perkembangan terhnologi begitu hebatnya. Sehingga telah memberi dampak yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.
Salah satu hal yang berkembang sangat pesat dan menjadi pemicu dari perkembangan yang ada adalah komunikasi. Karena itu, tidak aneh kalau akhir-akhir ini banyak orang yang tertarik untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan (kompetensi) berkomunikasi.
Kemampuan berkomunikasi memang merupakan suatu hal yang sangat fundamental bagi kehidupan manusia, Dengan mampu berkomuniksi dengan baik kita bisa membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang mengembangkan karier, Sebaliknya dengan kemampuan berkomunikasi yang buruk, kita juga memupuk perpecahan, menanamkan kebencian dan menghambat kemajuan.
Kualitas hidup, hubungan kita dengan orang lain, bahkan peluang dan usaha serta karier dapat ditingkatkan dengan dengan cara memperbaiki cara-cara dan kemampuan berkomunikasi terutama jika berhadapan dengan manusia yang berbeda budaya.

II KOMPETENSI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Kompetensi dalam Bahasa Inggris adalah competency atau competence merupakan kata benda, Menurut William D. Powell dalam aplikasi linguist Version 1.0 (1997) diartikan : 1). Kecakapan, kemampuan , kompetensi ; 2). Wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu dan tangkas.
Kata competence adalah state of being capable atau dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjukkan kapabilitas atau kemampuan seseorang, sehingga ia dapat berfungsi dalam cara-cara yang mendesak dan penting. Misalnya kompetensi komunikator adalah sebuah kompetensi yang dimiliki oleh seorang komunikator atau kemampuan tertentu, kemampuan yang cukup dari seorang komunikator dalam menghindari perangkap atau hambatan komunikasi.seperti meminimalisir kesalahpahaman, kekurangmengertian, dan memahami perbedaan sikap dan persepsi orang lain.
Dari defenisi diatas kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan tugas dan peran, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan apada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kompetensi lintas budaya adalah kompetensi yang dimiliki oleh seseorang (baik secara pribadi, berkelompok organisasi atau dalam etnik dan ras) untuk meningkatkan kapasitas, keterampilan, pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan utama dari orang-orang lain yang berbeda kebudayaannya. Kompetensi lintas budaya merupakan suatu perilaku yang kngruen, sikap, struktur, juga kebijakan yang dating bersamaan atau menghasilkan kerja sama dalam situasi lintas budaya.
Setiap kompetensi lintas budaya dari seorang individu tergantung pada institusi social, organisasi kelompok kerja, dan tempat individu berada (secara fisik maupun social) Semua factor itu membentuk sebuah system yang mempengaruhi kompetensi lintas budaya individu yang efektif. Jadi secara makro dapat dikatakan bahwa kompetensi lintas budaya merupakan tanggung jawab atas total system sebuah kebudayaan. Kompetensi lintas budaya berkaitan dengan suatu keadaan dan kesiapan individu sehingga kapasitasnya dapat berfungsi efektif dalam situasi perbedaan budaya.

III UNSUR-UNSUR KOMPETENSI
Perekembangan jaringan komunikasi dan meningkatnya jumlah orang yang berkunjung ked an menetap di suatu Negara lain, baik untuk sementara ataupun untuk selamanya telah menumbuhkan kesadaran akan perlunya memahami budaya orang lain. Budaya orang lain telah menjadi suatu bagian yang penting dalam lingkungan komunikasi mereka. Keberhasilan Negara asing ini antara lain ditentutukan kemampuan mereka dalam mengatasi masalah-masalah budaya dan komptensi lintas budaya. Spiitzberg menyatakan kompetensi adalah sebuah kesan, Kompetensi komunikasi tidak boleh tidak harus disamakan dengan kesan dari seseorang yang menjadi lawan bicara. Ada beberapa implikasi dari pernyataan diatas
1 Kompetensi tidak selalu harus actual sesuai dengan tampilan yang dilihat oleh orang lain.
2 Fakta bahwa seseorang telah mngevaluasi sesuatu yang mungkin saja evaluasi itu melenceng, bias atau menarik sebuah kesimpulan yang salah. Atau membuat perbedaan penilaian dengan menggunakan criteria yang sama, namun menghasilkan kompetensi yang berbeda.
3 Evaluasi itu harus dibentuk dengan merujuk pada sejumlah criteria, baik implicit maupn eksplisit. Evaluasi ini menjadi tidak dapat dipahami atau tidak valid kerena tidak didukung oleh pengetahuan tentang criteria atau bagaimana criteria itu disusun. Sehingga tampilan yang sama, bisa jadi dikatakan berkompeten oleh suatu standart tertentu, namun tidak kompeten menurut criteria yang lain.
Meskipun demikian, umumnya pembicaraan tentang kompetensi jelas menghendaki adanya suatu keterampilan atau kecakapan yang dimilki, disaat berkomunikasi dengan orang lain dan ketepatan itu ditentukan pula lawan bicara. Menurut Spitzbeg ada tiga komponen kompetensi dalam berkomunikasi yaitu :
1 Motivasi
Motivasi adalah daya tarik dari komunikator yang mendorong seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain
2 Pengeatahuan
Pengetahuan menentukan tingkat kesadaran atau pemahaman seseorang tentang kebutuhan apa yang harus dilakukan dalam rangka komunikasi secara tepat dan efektif, komponen pengetahuan turut menentukan kompotensi komunikasi karena hal ini berkaitan erat dengan tingkat kesadaran terhadap apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan orang lain
3 Keterampilan
Kemampuan dapat membimbing kita untuk mengahdirkan sebuah prilaku tertentu yang cukup dan mampu mendukung proses komunikasi secara tepat dan efektif. Tujuan utama dari keterampilan semata-mata untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dan kecemasan. Untuk mengurangi ketidakpastian setidaknya seseorang harus mempunyai keterampilan empati, ber[prilaku seluwes mungkin dan kemampuan untuk mengurangi situasi ketidakpastian itu sendiri

II PENDEKATAN KOMPETENSI BERKOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Ada empat macam pendekatan teoritik terhadap kemampuan berkomunikasi lintas budaya yaitu :
1 Pendekatan Perangai
Tatkala berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan lain, maka anda menampilkan perangai (trait) tertentu, ingatlah bahwa perangai tidak saja dibentuk oleh factor-faktor internal individu tetapi juga pengaruhi factor-faktor social. Itulah yang disebut Internal Response Trait yaitu derejat (tinggi atau rendah) kestabilan disposisi dan konsistensi disposisi individu untuk merespons karakteristik orang lain.
2 Pendekatanm Perseptual
Anda harus mengidentifikasi jenis-jenis persepsi, seperti kognisi,pandangan dan pemahaman bahwa semua itu berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi lintas budaya yang emeperhitungkan tekanan psikologi, berkomunikasi secara efektif dan membangun relasi antar pribadi.
3 Pendekatan Perilaku
4 Pendekatan terhadap kompetensi komunikasi lintas budaya dapat dilakukan melalui pendekatan perilaku, terutama perilaku social (perilaku individu dalam konteks social) karena invidu berhubungan dengan seseorang dalam konteks budaya tertentu.
5 Pendekatan terhadap kebudayaan tertentu.
Jika kita ingin meningkatkan komunikasi dengan orang lain dari kebudayaan lain maka yang dilakukan adalah mempelajari kebudayaan, belajar tentang nilai, norma, kepercayaan, bahasa (verbal dan non verbal) struktur pengetahuan, system social dan budaya, system ekonomi, mata pencaharian, dan adapt istiadat.

IV KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa kompetensi lintas budaya adalah kompetensi yang dimiliki oleh manusia baik secara pribadi, berkelompok, organisasi atau dalam etnik dan ras tertentu, dalam meningkatkan keterampilan, pengetahuan yang menyangkut kebutuhan utama dari orang-orang berbeda budaya. Jadi Kompetensi komunikasi lintas budaya adalah seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi, khususnya komunikasi antar manusia berbeda budaya.

DAFTAR BACAAN
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) 2005
Dahlan site, Pengertian-Kompetensi, . http://dahlanforum.word.press.com diakses pada tgl. 16 Mei 2009.
Liliweri MS, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, (LKiS: Yogyakarta) 2003
Mulyana, Dedi & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya : Panduan Berkomunikasi dengan orang-orang berbeda budaya, (PT. Remaja Rosda Karya : Bandung) 1996.

DAKWAH DI SURAT KABAR : KAJIAN KRITIS
Oleh : Marasakti Bangunan
NIM : 08 KOMI 1374

A. PENDAHULUAN
Surat kabar atau biasa disebut koran merupakan salah satu media cetak berisikan artikel-artikel yang memuat tulisan tentang peristiwa atau berita penting terhangat seputar kehidupan manusia. Topik umum yang sering ditampilkan dalam surat kabar adalah politik, kriminalitas, bisnis, seni, sosial, dan olahraga.
Pada pertengahan abad ke-XIX di negara-negara Barat, pers disebut sebagai kekuatan yang keempat, setelah eksekutif, yudikatif dan legislatif. Hal ini menunjukkan kekuatan pers dalam melakukan advokasi dan menciptakan isu-isu politik. Karena itu tidak mengherankan bila pers sering ditakuti, atau malah “dibeli” oleh pihak yang berkuasa.
Dalam ranah dunia pemberitaan saat ini, kelebihan media online yang bisa menyajikan berita secara cepat dan real time, memang takkan bisa ditandingi media cetak, keberadaan internet disinyalir akan menghabisi eksistensi media cetak, seiring dengan semakin maju dan murahnya teknologi pendukung ditambah dengan belomba-lombanya sejumlah surat kabar meluncurkan versi media online dimana versi tercetak di-posting secara online di situs media bersangkutan. Namun dalam pandangan yang lain mengatakan bahwa memang benar pamor media online akan terus menanjak tetapi bukan berarti media cetak akan segera punah. Media cetak dan media online akan berjalan saling melengkapi.
Sejalan dengan itu dalam pandangan Islam, bahwa segala bentuk aktivitas yang mengandung nilai-nilai kebajikan dan membendung bentuk-bentuk kejahatan, merupakan manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar. Sedangkan aktivitas yang memiliki dimensi amar ma’ruf nahi munkar dalam perspektif Islam dikenal atau disebut dengan berdakwah.
Jadi karena itu dakwah melalui surat kabar tidak mesti lewat artikel-artikel keagamaan yang syarat dengan kajian al Qur’an semata. Karenanya makalah ini mencoba melihat sisi-sisi surat kabar yang dapat dijadikan sebagai penyampai dakwah kepada masyarakat.

B. PEMBAHASAN
1. DAKWAH MELALUI TULISAN
Kata dakwah dalam bahasa Arab berasal dari kata da’wat atau da’watun yang berarti: undangan, ajakan, seruan. Dari sekian banyak definisi dakwah yang dirumuskan oleh pakar dakwah dapat disimpulkan bahwa pada intinya dakwah adalah mengajak manusia kejalan Allah agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat.
Dalam pengertian yang lebih luas bahwa dakwah tidak hanya terbatas pada ceramah dan pidato yang didalamnya terdapat penyampaian ayat-ayat suci al Qur’an dan Hadis, tetapi menyangkut seluruh aktivitas manusia yang tujuannya untuk memberikan pengaruh ‘perubahan’ pada tingkah laku manusia, kepada yang lebih baik , seperti menulis cerpen pada sebuah surat kabar, dialog dari hati kehati dengan pecandu narkoba, pembangunan sarana rekreasi yang menjunjung tinggi norma-norma agama dan lain-lain.
Jika kita cermati fakta di masyarakat, tak dipungkiri bahwa dakwah bil lisan masih mendominasi dibanding dakwah tulisan. Mungkin karena berbicara itu jauh lebih mudah ketimbang menulis, sehingga menjadi pilihan banyak orang. Bukan berarti kita merendahkan kontribusi para mubaligh yang menggunakan metode lisan, tapi alangkah bagusnya jika diringi dengan tulisan.
Perlu disadari pula, bahwa berdakwah dengan tulisan itu tidak melulu dalam bentuk ulasan keagamaan yang sarat dengan ayat-ayat al Quran, hadis-hadis, maupun fatwa-fatwa ulama. Untuk menyentuh dan menarik minat berbagai kalangan atau lapisan masyarakat, kita bisa lebih ‘cair’ serta fleksibel. Misalnya melalui puisi (sebagaimana dilakoni Emha Ainun Nadjib, KH Mustafa Bisri, Taufik Ismail, Eza Thabry Husano, Abdurraham El-Husein, dll), cerpen (sebagaimana dilakukan Danarto, Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa beserta anggota Forum Lingkar Pena lainnya), novel (sebagaimana digeluti Pipiet Senja, Habiburrahman El Shirazy, dll). Atau, memotivasi orang agar giat bekerja dan optimis menyongsong masa depan (sebagaimana digalakkan Toto Tasmara), memberikan kiat-kiat bagaimana membentuk keluarga sakinah dan mendidik anak yang baik (sebagaimana ditekuni Mohammad Fauzil Adhim) juga bagian dari dakwah. Bahkan tulisan humor yang bisa membuat orang sedih jadi ketawa, dapat dikategorikan dakwah. Intinya, tulisan apapun yang mampu menghantar orang pada kualitas kehidupan yang lebih baik itu adalah dakwah.
Artinya, dakwah yang dikemas dalam bentuk tulisan jauh lebih tahan lama dibanding melalui lisan. Daya jangkaunya juga lebih luas, menembus sekat ruang dan waktu. Buktinya, tulisan para ulama yang dibuat ratusan tahun silam masih bisa dinikmati oleh generasi kini dan generasi yang akan datang, sepanjang karya-karya itu dibaca, maka sepanjang itu pula dakwahnya tetap berjalan dan sepanjang itu pula ia masih mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat, Jasad penulis boleh terkubur, tapi karya dan tulisannya akan senantiasa langgeng.

2. KEBERADAAN SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA DAKWAH
Naiklah kereta bawah tanah di Tokyo. Sepuluh tahun lalu, hampir sebagian besar penumpangnya, baik tua dan muda, tunduk dan asyik membaca buku, majalah, surat kabar, dan komik. Kini yang ada di tangan mereka adalah handphone, i-pod, note-book.
Media cetak, sedang menghadapi cobaan berat. kehadiran media baru (new media), seperti internet, telepon genggam, i-pod, radio satelit, dan munculnya sebuah generasi yang berbeda dalam mengonsumsi informasi telah memaksa media cetak untuk berpikir keras menata kembali posisinya agar tetap relevan bagi konsumennya.
Datangnya era jurnalisme warga (citizen journalism) juga memaksa media tradisional mengubah pola pikir sebagai satu- satunya alternatif penyampai ”kebenaran”. Namun, tantangan terberat berikutnya adalah datangnya krisis ekonomi global. bagi media cetak, harga kertas impor terus membubung, pemasukan iklan menurun drastis, dukungan distribusi semakin mahal, sementara sirkulasi umumnya stagnan, kalau tidak anjlok.
Menurut Timothy Balding, CEO Asosiasi Surat Kabar Dunia, di beberapa negara sedang berkembang, pasar surat kabar bahkan meningkat, dengan sangat meyakinkan. Ketika menyampaikan laporan mengenai kemajuan industri persuratkabaran dunia, Balding mengemukakan berbagai fakta bahwa bisnis surat kabar kini menjadi lebih bergairah, termasuk di negeri maju yang masih menunjukkan pertumbuhan sirkulasi. Semakin menguatnya media digital malah mendorong media cetak yang bagi mayoritas pembaca dianggap sebagai bagian tidak terpisahkan dari sumber informasi mereka. Balding tentu tidak sekadar asal bunyi, Ia membeberkan data betapa surat kabar di seluruh dunia menunjukkan kebangkitan kembali. Pada 2006, sirkulasi koran di seluruh dunia meningkat 2,3%, dan selama lima tahun terakhir naik 9,48%. Peningkatan terjadi di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. Satu-satunya yang menunjukkan penurunan hanyalah Amerika Utara. Pendapatan iklan koran di seluruh dunia pun meningkat 3,77% tahun lalu atau naik 15,77% dalam lima tahun terakhir. Di Asia Tenggara, selama lima tahun terakhir, Malaysia mencatat pertumbuhan penjualan 19,97%, Singapura 0,48%, dan Thailand 12,31%. Tetapi tidak disebutkan data penjualan surat kabar di Indonesia.
Di Indonesia, misalnya, tantangan industri pers sampai tahun 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dirinya. Tonggak kebebasan itu ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998. Media ikut berperan dalam penetapan agenda-setting perjalanan demokrasi di Indonesia. Dan, menjaga apa yang telah diraih dalam proses reformasi, seperti: memberi peran yang lebih besar bagi masyarakat madani, mencegah militer kembali ke panggung politik, menjamin proses checks and balances di antara tiga pilar kekuasaan, menjunjung penegakan hukum dan penghormatan pada HAM—semua itu menjadi prioritas utama pers Indonesia.
Hingga saat ini Indonesia masih berjuang melawan tingkat buta huruf, yaitu sekitar 11 juta orang, dengan usia 15 tahun ke atas. Tingkat akses terhadap internet pun masih rendah, hanya sekitar 25 juta, atau sekitar 11 % dari populasi yang berjumlah 228 juta orang. Dengan kata lain, kalaupun saat ini media cetak sedang ”berdarah-darah”, hal itu lebih dikarenakan faktor resesi ekonomi. Namun, tidak berarti media cetak akan ”mati”
Setidaknya hingga saat ini terutama diwilayah Sumatera Utara khususnya kota Medan dan sekitarnya, bahwa surat kabar masih mendominasi sebagai bahan bacaan pada fasilitas-fasilitas umum, seperti kantor pemerintah, bank, rumah makan, pangkas, kedai kopi, lapo tuak, dan lain lain. Hanya sebagian kecil plaza, hotel dan rumah makan siap saji yang menyiapkan perangkat wi fi atau jasa internet.
Karena keberadaan itu, surat kabar tetap relevan dijadikan sebagai media dakwah dalam berbagai segi dan situasi. Cukup banyak sisi surat kabar yang dapat dijadikan sebagai penyampai dakwah kepada masyarakat seperti motto, penyusunan kata dalam berita, penempatan gambar, dan lain-lain.

3. DAKWAH DAN SURAT KABAR
Surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Topiknya bisa berupa even politik, kriminalitas, olahraga, tajuk rencana, cuaca. Surat kabar juga biasa berisi kartun, TTS dan hiburan lainnya.
Ada juga surat kabar yang dikembangkan untuk bidang-bidang tertentu, misalnya berita untuk industri tertentu, penggemar olahraga tertentu, penggemar seni atau partisipan kegiatan tertentu.
Jenis surat kabar umum biasanya diterbitkan setiap hari, kecuali pada hari-hari libur. Surat kabar sore juga umum di beberapa negara. Selain itu, juga terdapat surat kabar mingguan yang biasanya lebih kecil dan kurang prestisius dibandingkan dengan surat kabar harian dan isinya biasanya lebih bersifat hiburan.
Perkembangan teknologi modern (komputer, internet, dll) kini memungkinkan pencetakan surat kabar secara simultan di beberapa tempat, sehingga peredaran di daerah-daerah yang jauh dari pusat penerbitan dapat dilakukan lebih awal. Misalnya, koran Republika yang pusatnya di Jakarta, melakukan sistem cetak jarak jauh (SCJJ) di Solo. Koran International Herald Tribune yang beredar di Indonesia dicetak dan diterbitkan di Singapura, padahal kantor pusatnya berada di Paris.
Di satu pihak sistem ini menolong beredarnya koran-koran kota besar di daerah-daerah dengan lebih tepat waktu. Namun di pihak lain, koran-koran daerah banyak yang mengeluh karena hal ini membuat koran-koran besar semakin merajai dan mematikan koran-koran daerah yang lebih kecil.
Kegiatan berdakwah dalam beberapa hal dapat dilihat sebagai kegiatan komunikasi. Dalam kegiatan komunikasi hendaknya disadari bahwa faktor kecanggihan medium – sebagai imbas perkembangan teknologi komunikasi – bukanlah satu-satunya determinan yang menentukan sukses tidaknya suatu aktivitas komunikasi. Sebab, dalam setiap proses komunikasi, setidak-tidaknya ada lima komponen komunikasi yang harus diperhatikan, yaitu: komunikator, isi pesan, medium, komunikan dan feedback (umpan balik).
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana meningkatkan efektifitas dakwah, atau bagaimana proses dakwah tersebut bisa mencapai tujuannya. Beberapa hal di bawah ini mungkin perlu di perhatikan .
Pertama, makna komunikator harus diperluas. Kalau selama ini kita cenderung melihat komunikator atau penyampai pesan hanyalah mereka yang dapat disebut ulama, atau mubaligh di majelis taklim, mimbar-mimbar masjid dan musholla, maka makna itu sebaiknya diperbesar. Kita harus mempersepsikan bahwa sesungguhnya kita semua mempunyai tugas keda’ian. Seorang wartawan yang menyadari kebesaran Allah SWT lewat kesempurnaan sebab akibat dan kronologis suatu kejadian/peristiwa, dapat berdakwah dengan menyampaikan “kesadarannya” itu pada khalayak melalui etika pemberitaan menurut norma-norma agama. Negarawan, peneliti, teknolog dan sebagainya semuanya dapat melaksanakan peran-peran keda’ian pada bidang keahlian dan tekunannya masing-masing.
Kedua, isi pesan juga perlu terus diperluas. Isi pesan dakwah diharapkan tidak semata menyampaikan al-Quran, Hadis, dalam arti secara harfiah membaca/menyebutkan ayat suci al-Qur’an. Dengan tidak memungkiri bahwa sumber baku dakwah itu adalah al –Qur’an dan Hadis. Isi pesan dakwah harus dipahami yaitu segala sesuatu yang dapat memberikan pencerahan hati dan pikiran masyarakat, baik melalui perkataan, tulisan dan perbuatan. materi dakwah pun sebaiknya harus dapat menyahuti kebutuhan dalam konteks kekinian sesuai dengan perkembangan zaman.
Ketiga, media untuk menyampaikan pesan dakwah juga perlu diperluas maknanya. Semua jenis media massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah dan seterusnya mestinya dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan dakwah. Tentu saja kontak interpersonal tak kalah pentingnya. Perbuatan atau prestasi baik dalam satuan-satuan kerja dan pengabdian kita pun dapat dijadikan sebagai suatu media dakwah.
Keempat, khalayak atau target audience juga perlu diperluas maknanya. Selain komunitas masjid, langgar, musholla, majelis taklim, juga mereka yang berada di tempat-tempat lain seperti di kantor, perusahaan, rumah sakit dan sebagainya. Tentu saja dengan cara ataupun pendekatan yang berbeda-beda. Semua anggota masyarakat, sebagai individu atau kelompok, yang kaya dan miskin, di kota metropolitan dan di desa terpencil, seharusnya terjangkau oleh dakwah dengan medium dan materi yang sesuai.

a) . Perwajahan Dalam persfektif Dakwah
Surat kabar biasanya dicetak pada kertas murah yang disebut kertas koran. Sejak 1980-an, industri surat kabar berubah dari percetakan berkualitas rendah ke percetakan dengan kualitas tinggi dengan proses empat warna dan offset printing. Kehadiran komputer, word processing software, graphics software, kamera digital, dan digital prepress and typesetting semakin memajukan percetakan surat kabar. Teknologi tersebut membuat surat kabar mampu mencetak foto dan grafik berwarna dengan layout yang inovatif dan desain yang semakin baik.
Perwajahan media massa cetak khususnya surat kabar nampak semakin memanjakan konsumennya. Perwajahan adalah penyusunan unsur-unsur desain berupa garis, bidang, warna ke dalam suatu halaman yang disebarkan melalui media cetak secara kasatmata (visual). Lebih sederhana lagi bahwa perwajahan adalah proses rancang, olah grafis dan tata letak (lay out) halaman surat kabar.
Kehadiran perwajahan sebenarnya bukan sekadar tindakan kreatif penggabungan antara kecendikiaan dan keterampilan artistik dan tidak hanya dimaksudkan untuk memasukkan berita, foto, ilustrasi, dan iklan, tetapi ada tugas yang lebih berat, yaitu bagaimana perwajahan dapat menambah daya serap penerimaan pesan di dalamnya.
Berkomunikasi secara grafis dalam perwajahan, seyogianya direka sedemikian rupa sesuai keinginan khalayak pembaca, agar berdampak seperti yang diharapkan. Perwajahan dapat berperan sebagai katalisator penyampaian pesan sebuah media cetak. Memakai rancang perwajahan yang tepat berarti kandungan informasi yang dimilikinya, semakin efektif dan efisien diterima masyarakat, sehingga mampu membentuk perasaan, sikap, perilaku, dan pola pikirnya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, perwajahan dilihat dari perspektif dawkah adalah kegiatan yang tidak berhenti pada fungsi desain grafis dan lay out saja. Selanjutnya perwajahan akan berperan sebagai bagian dari efektivitas keterbacaan media (channel) dalam penyampaian pesan dari si pembuat pesan (komunikator) kepada sasarannya (komunikan) dalam kegiatan dakwah.
Dalam Islam istilah komunikasi dapat ditemukan padanannya dengan dakwah. Dimana adanya proses interaktif dan kontak sosial yang mentransformasikan berbagai pesan dan informasi yang mengalir dari berbagai sumber kepada khalayaknya.
Pada taraf berikutnya, dijabarkan secara lebih mendalam bahwa perwajahan yang bernuansa dan berdasarkan konsep agama merupakan sarana dakwah untuk menghasilkan suatu tanggapan positif dari khalayak. Sehingga dengan bentuk perwajahan yang berkonsentrasi dimensi dakwah menimbulkan simpati dan bujukan terhadap pembaca untuk menerima pesan dan dakwah media cetak tersebut.
Meskipun perwajahan memberi kesempatan berekspresi secara verbal dan non verbal, sebagai alat katalisator penerimaan pesan dari sebuah media cetak, perwajahan harus tetap berada dalam koridor dan batas-batas komunikasi, dimana pesan haruslah menimbulkan pengaruh. Seperti dikemukakan Lasswell komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media sehingga menimbulkan efek tertentu
Dengan demikian, desain perwajahan bukan hanya semata memoles surat kabar agar indah dan menarik, tetapi dalam konteks dakwah bagaimana agar desain perwajahan itu dapat diiringi dengan ajakan, himbauan, dan bimbingan terhadap khalayak menuju kehidupan lebih baik sesuai tuntunan Agama.

b) . Analisis Berita dan Pemberitaan Dalam kaitannya dengan Dakwah
Berita berasal dari bahsa sansekerta “Vrit” yang dalam bahasa Inggris disebut “Write” yang arti sebenarnya adalah “Ada” atau “Terjadi”.Ada juga yang menyebut dengan “Vritta” artinya “kejadian” atau “Yang Telah Terjadi”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, berita berarti laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat .
Dewasa ini, untuk kalangan tertentu yang memahami betul gerak-gerik pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiap penulisan berita menyimpan ideologis/latar belakang seorang penulis. Seorang penulis pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis terhadap data-data yang diperoleh di lapangan. Ternyata penyampaian sebuah berita menyimpan subjektivitas penulis. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita hanya dinilai apa adanya. Berita dipandang sebagai barang suci yang penuh dengan objektivitas.
Analisis terhadap isi berita ini, akan mengantar pembaca kepada pemahaman tentang latar belakang seorang penulis berita. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap pembaca. Pembaca akan lebih memahami tafsir berita, kenapa dan mengapa beirta itu ditulis dan disebarkan kepada khalayak. Sehingga pembaca dapat menghindari masuknya idiologi penulis berita. Dengan analisis berita ini diharapkan Pembaca telah memiliki filter dalam menyikapi pemberitaan dalam media massa.
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menganalisa berita, yaitu analisis isi (content analysis), analisis bingkai (frame analysis), analaisis wacana (disccourse analysis), dan analisis semiotik (semiotic analysis). Semuanya memiliki tujuan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan target pelaku analisis.
Pada sisi lain jurnalis muslim yang juga bertindak sebagai da’i, misi dakwah harus tetap berjalan dalam sebuah pemberitaan. Unsur berita 5W 1H dapat dijadikan sebagai alat untuk memasukkan misi dakwah, yaitu dengan menonjolkan positif-negatif diantara 5W 1H. secara perlahan positif akan menjadi panutan dan negative akan ditinggalkan khalayak.
Sesunggunya cukup banyak isi surat kabar yang dapat dijadikan sebagai media dakwah dalam artian rubrik atau kolom-kolom yang ada, dapat dijadikan sebagai media dakwah. Dalam konteks ini kita mencoba melihat pada surat kabar WASPADA yang terbit di Medan. Seperti Kolom Albayan, yang coba melihat kajdian yang sedang hangat di perbincangkan korelasi dengan Al qur’an dan Hadis, Sejarah dan lain-lain.

Kemudian rubrik kisah-kisah pahlawan Islam dan kolom resensi buku dari-buku keislaman yang baru terbit, seperti contoh sebagai berikut :

Selanjutnya kolom peristiwa, dalam foto dibawah terlihat keberadaan Istanbul dengan kemegahan arsitektur bangunannya.

Jadi Sebesar dan sekecil apapun pengaruhnya pada khalayak tentang pemberitaan diatas tentulah sudah dapat dikatakan dengan dakwah.

c) . Dakwah di Surat Kabar berkaitan erat dengan Pemilik, pimpinan redaksi dan wartawan

Setidaknya ada tiga komponen yang saling berkaitan dalam mempengaruhi berhasilnya dakwah di media surat kabar, tiga komponen tersebut adalah : pemilik modal, pemimpin redaksi dan wartawan. Ketiga komponen tersebut harus berjalan seiring. Bila salah satunya tidak memiliki jihad untuk dakwah maka dakwah di media surat kabar dapat dikatakan tidak maksimal, walaupun pada hakikatnya dakwah tetap dapat berjalan melalui pemberitaan yang ditulis oleh jurnalis.
Sebelum dipublikasikan menjadi sebuah berita, informasi harus melewati berbagai tahapan seleksi terlebih dahulu. Pada akhirnya, ada informasi yang lolos dari tahap seleksi kemudian diangkat menajdi berita, dan ada informasi yang tidak lolos tahap seleksi. Hal ini dikarenakan tidak tersedia cukup waktu dan tempat di dalam media massa.. Fungsi pengaturan tempat dan waktu ini berkaitan dengan fungsi redaksi sebagai penjaga gawang informasi (gatekeeper) yang menepis berita-berita masuk, Media melalui kegiatan yang disebut gatekeeping mengontrol akses khalayak terhadap berita, informasi, dan hiburan.
Bila dikaitkan dengan teori komunikasi massa, maka hal ini bersesuaikan dengan Agenda Setting Theory, yaitu suatu theory yang meyakini dan meramalkan bahwa media tidak mempengaruhi sikap khalayak, namun media berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan khalayak. Dengan kata lain, media mempengaruhi persepsi khalayak tentang hal yang dianggap penting. Singkatnya, media memilih informasi dan berdasarkan informasi dari media, khalayak akan membentuk persepsi tentang peristiwa.
Singkatnya dapat dikatakan bahwa media mampu menggiring opini publik kepada suatu fakta tertentu melalui setting terhadap informasi yang akan dijadikan sebagai berita. Maka pada tahap inilah misi dakwah dapat berjalan, informasi yang dianggap tidak tidak memihak kepada dunia muslim dapat ditunda pemberitaannya dan beralih kepada pemberitaan yang bernilai dakwah.
Menurut Dedi Muliyana, semestinya pers memiliki misi yang mulia, yakni turut memberikan solusi atas konflik yang terjadi, bukan justru melaporkan segi-segi yang menarik dan dramatic semata-mata dengan tujuan untuk meningkatkan pasar. Para pengelola Pers (pemodal, redaktur, dan wartawan) perlu memiliki watak “ke-indonesiaan” yang murni dan konstruktif untuk turut membangun indonesi yang bersatu, berdaulat dan berkeadilan

C. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa meskipun surat kabar dan media cetak lainnya sedang dalam gempuran media online, tetaplah efektif dijadikan sebagai media dakwah, bukan saja tulisan/artikel yang secara khusus membahas bidang agama, menurut kami desain perwajahan surat kabar yang dipoles dengan norma-norma agama, sistematika penulisan pemberitaan yang mengedepankan sisi positif/negative secara lugas, cerdas dan berani serta kemampuan jurnalis muslim untuk menyatakan dan mengungkap sebuah kebenaran berdasarkan fakta dan realita adalah juga disebut prilaku dakwah.
Pada posisi ini seorang wartawan muslim harus mampu memprediksi efek-efek pemberitaan yang ditulisnya. Apakah efeknya akan membentuk opini negative atau positif terhadap Islam.
Berita bukanlah sesuatu yang begitu saja muncul suci dan bersih, tanpa mengandung maksud-maksud tertentu, ia hadir sebagai sebuah fakta yang dapat setir kemana saja, subjektikvitas jurnalis (institusi media) sedikit atau banyak berbaur didalamnya, karenanya ilmu analisis berita seperti content analysis, frame analysis, disccourse analysis, dan semiotic analysis, perlu dikembangkan terutama bagi para pelajar dan generasi muda Islam, sekaitan dengan perkembangan media komunikasi yang semakin pesat.
Peran pemodal, redaktur dan wartawan dalam penyajian informasi juga turut mewarnai model dan bentuk informasi yang akan dipublikasikan, tarik menarik ketiga komponen tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi sebuah media surat kabar.

DAFTAR PUSTAKA
Darmanto, Membongkar Ideologi Di Balik Penulisan Berita Dengan Analisa Framing, Univrsitas Brawijaya, makalah, 2004.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) 2005.
Effendy, Onong Uchyana. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi (Bandung: Citra Aditya Bakti) 1993.
Habib, M. Syafa’at: Buku Pedoman Dakwah (Jakarta : Widjaya) 1999.
Marwah Daud Site, Dakwah di Era Informasi, http://marwahdaud.com. diakses pada tgl. 14 Mei 2009.
Muliyana, Deddy, Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi (Bandung : Widya Padjadjaran) 2008.
Myrna Ratna Site, etika jurnalisme, http://Myrnaratna.wordpress.com. diakses pada tgl. 14 Mei 2009.
Hasan Aspahani Site, Unsur Dasar Desain Surat Kabar, http://blogspot.com/2008/09/20/unsur-dasar-desain-surat-kabar.html. diakses pada tanggal 14 Mei 2009.
Kries07 site, pengertian-berita, http://kries07.blogspot.com/2009/02/pengertian-berita.html diakses pada Tgl. 14 Mei 2009.
Wikipedia site, Koran, http://id.wikipedia.org/wiki/Koran diakses pada tgl. 14 Mei 2009.

DINASTI-DINASTI KECIL DI TIMUR BAGHDAD :
THAHIRIYAH, SAMANIYAH, BUWAIHI, SALJUQ DAN GHAZNAWI
Oleh : Marasakti Bangunan, S.Ag.
NIM:08/KOMI/1374

I. PENDAHULUAN
Walaupun secara formal Daulah Abbasiyah berlangsung hingga 1258 M, tetapi setelah 100 tahun pertama berkuasa, Abbasiyah sebagai pusat pemerintahan melemah, konsep khalifah mengalami perobahan yang signifikan, khalifah tidak lagi memiliki otoritas politik dan eksklusif , fungsinya tak lebih dari sekedar pimpinan komunitas muslim yang hanya mengatur peradilan agama dan pribadatan. Era baru system pemerintahan dengan gaya “sekuler” ini diawali dari penggunaan kekuatan militer budak dalam menjalankan mesin pemerintahan, dan bahkan di beri kepercayaan untuk menyelenggarakan adiminitrasi pemerintahan negara.
Kemudian muncul kekuatan baru dari propinsi-propinsi dinasti Abbasiyah untuk memisahkan diri, masing-masing berlomba untuk maju, terutama di bidang peradaban dan ilmu pengetahuan . Ada keinginan yang kuat dari propinsi-propinsi untuk memisahkan antara pimpinan negara dengan pimpinan agama. Tata aturan baru ini pertama kali berlaku di Timur Baghdad dibawah naungan Dinasti Thahiriyah, Dinasti Samaniyah, Dinasti Buwaihiyah, Dinasti Ghaznawiyah, dan Dinasti Saljuq

II. PEMBAHASAN
1. Thahiriyah (820-908 M)
Dinasti yang pertama mendirikan sebuah negara semi independen di sebelah Timur Baghdad adalah Dinasti Thahiriyah, Pendirinya bernama Thahir Ibn Husyn dari Khurasan, Ia merupakan seorang jenderal pada masa khalifah Dinasti Abbasiyah , Dinasti Tahiriyah berkuasa antara tahun 820 M sampai dengan tahun 908 M .
Thahir adalah seorang budak Persia yang dipercaya Khalifah Ma’mun menjadi gubernur pada tahun 820 M, wilayah kekuasaannya meliputi semua daerah Khurasan di sebelah Timur Baghdad dengan pusat pemerintahannya di Khurasan. Pada perkembangan berikutnya beliau menghentikan sebutan Khalifah, meskipun secara formal para penerus Dinasti Thahiri adalah pengikut system khalifah
Khalifah-khalifah yang memerintah pada dinasti Thahiri antara lain : Thahir ibn Husain (821 M), Thalhah Tahun (822 M), Abdullah Tahun (828 M), Thahir II Tahun (845 M), dan Muhammad Tahun (863 – 873 M)
2. Samaniyah (873-900 M)
Keluarga Samaniyah adalah sebuah keluarga yang berasal dari Transoxania Persia, 874/999 M, seorang bangsawan keturunan Saman dan penganut agama Zoroaster dari Balkh, Pendiri Dinasti ini Nashr Ibn Ahmad (874/892 M.) cicit Saman. Samaniyah pada awalnya adalah salah satu propinsi pada masa Dinasti Thahiriyah.
Meskipun Dinasti Samaniyah tetap setia dan tunduk kepada Daulah Abbasiyah, tetapi sebenarnya Dinasti ini independen, namun dalam pandangan khalifah-khalifah Abbasiyah mereka adalah para amir (gubernur) bahkan amil (pemungut pajak) yang setia.
Dinasti Samaniyah dalam menjalankan roda pemerintahan tetap mempertahankan system Abbasiyah selama setengah abad, Rezim ini diperintah oleh ellit birokratik yang bergantung pada keluarga bangsawan keluarga tuan tanah.sementara propinsi perwakilan seperti Sijistan, Khawarizm dan Afghanistan diperintah oleh sultan atau gubernur budak yang terikat dengan perjanjian upeti.
Penguasa-penguasa Samaniyah adalah orang-orang yang mahir dalam menciptakan kultur Islam yang menakjubkan. Dinasti ini juga giat megembangkan berbagai ilmu pengetahuan, baik itu ilmu agama maupun pengetahuan umum dari Persia, Al Razi/Razes (865-925 M) ahli Kedokteran dan penemu Campak dan Cacar, Ibn Maskawaih. Bahkan Ibn Sina yang pada waktu itu masih berumur belasan tahun diberi kebebasan untuk keluar masuk perpustakaan istana, dan tidak hanya itu, bidang seni dan budaya juga turut dikembangkan. Serta pada masa inilah didirikan Bait Al Hikmah yaitu sebuah lembaga tempat mengkaji berbagai ilmu pengetahuan seperti geografi dan astronomi
Figur penegak dinasti ini adalah Ismail (892/907 M) karena pada tahun 874 M berhasil melepaskan diri dari Baghdad, dan daerah Khurasan dari genggaman dinasti Saffariyah . Dinasti Samaniyah berumur lebih kurang 125 tahun. dan pada tahun 999 M daerah-daerah yang mereka kuasai disebelah Selatan Transoxania dirampas oleh Mahmud Ghazna (Dinasti Ghaznawiyah), sedangkan di sebelah Utara jatuh ketangan Ilek Khan dari Turkistan.
3. Buwaihiyah (934-1055 M)
Sejarah Buwaihiyah dimulai dari tiga putra Suza Buwaihi yaitu Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) memasuki dinas militer, yang semula hanya untuk mengatasi problem ekonomi. Namun belakangan karena prestasi yang dimiliki keturunan Buwaihi ini, maka pada masa Mardawij, Ali di lantik menjadi gubernur al Kharaj, serta menempatkan dua saudara Ali pada posisi strategis . Semenjak inilah kekuatan Buwaihi mulai tampak, gubernur Ali berhasil mengadakan penaklukan daerah Isfahan, Syiraz dan Kirman di Persia, dan pasca wafatnya Mardawij, Ali meminta legitimasi pemerihahannya ke pemerintah Daulah Abbasiyah di pusat, Selanjutnya melakukan ekspansi ke Irak, Ahwaz dan Wasith. Dari sinilah pasukan Buwaihi dengan mudah menaklukkan Baghdad (Pusat Pemerintahan Abbasiyah). Ibu Kota Bani Abbas itu dikuasai Dinasti Buwaihi sampai tahun 1055 M.
Khalifah-khalifah Bani Abbas tetap diakui, tetapi kekuasaannya tetap dipegang oleh sultan-sultan Buwaihi. Dinasti Buhaiwiyah memprakarsai sebuah model dinasti baru dalam system kekhalifahan, Buhaiwiyah mendudukkan sultan sebagai kepala negara, dan mengorganisir kepala-kepala negara tersebut menjadi pimpinan muslim, serta berhak membuat keputusan di bidang keagamaan. Dan dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
Urutan penguasa Dinasti Buwaihiyah : Muiz Al Daulat, Izz al Daulat, Azad al Daulat, Samsan al Daulat, Bahaud al Daulat, Sultan al Daulat, Imad al Daulat, dan Khusru Firuz al Rahim. Dari 8 orang penguasa ini yang paling berpangaruh Azad al Daulat, pada masanyalah wilayah dinasti Buwaihiyah membentang dari laut Caspia sampai dengan lembah Gulf, dan membentang dari Isfahan hingga mencapai Persia, Ia adalah penguasa yang mencintai keadilan dan kebenaran dan sangat terkenal kedermawanannya. Ia Menggaji para pejungga dan pustakawan dengan harta pribadinya. Ia mendatangkan para ilmuan dari berbagai penjuru untuk datang ke Istana, ilmuwan besar yang muncul pada masa ini di antaranya al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Farghani, Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-‘Ala al-Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa.
Kemudian jasa besar Dinasti Buwaihiyah juga terlihat dalam pembangunan sejumlah masjid, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi dan sejumlah bangunan lainnya. Kamajuan ini juga tampak pada bidang ekonomi, pertanian dan industri khususnya industri permadani.
Kekuatan politik Bani Buwaih tidak lama bertahan. Setelah generasi pertama, tiga bersaudara tersebut, kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. Misalnya, pertikaian antara ‘Izz al-Daulah Bakhtiar, putera Mu’izz al-Daulah dan ‘Adhad al-Daulah, putera Imad al-Daulah, dalam perebutan jabatan amIr al-umara. Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Bani Buwaih ini merupakan salah satu faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka. Faktor internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer, antara golongan yang berasal dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika Amir al-Umara dijabat oleh Mu’izz al-Daulah persoalan itu dapat diatasi, tetapi manakala jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, masalah tersebut muncul ke permukaan, mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.
Sejalan dengan makin melemahnya kekuatan politik Bani Buwaih, makin banyak pula gangguan dari luar yang membawa kepada kemunduran dan kehancuran dinasti ini. Faktor-faktor eksternal tersebut diantaranya adalah semakin gencarnya serangan-serangan Bizantium ke dunia Islam, dan semakin banyaknya dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad. Dinasti-dinasti itu, antara lain dinasti Fathimiyah yang memproklamasikan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir, Ikhsyidiyah di Mesir dan Syria, Hamdan di Aleppo dan lembah Furat, Ghaznawi di Ghazna dekat kabul, dan dinasti Saljuq yang berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Buwaih.
Jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Saljuq bermula dari perebutan kekuasaan di dalam negeri. Ketika al-Malik al- Rahim memegang jabatan Amir al-Umara, kekuasaan itu dirampas oleh panglimanya sendiri, Arselan al-Basasiri. Dengan kekuasaan yang ada di tangannya, al-Basasiri berbuat sewenang-wenang terhadapal Al-Malikal-Rahim dan Khalifah al-Qaimdari Bani Abbas; bahkan dia mengundang khalifah Fathimiyah, (al-Mustanshir, untuk menguasai Baghdad. Hal ini mendorong khalifah meminta bantuan kepada Tughril Bek dari dinasti Saljuq yang berpangkalan di negeri Jabal. Pada tanggal 18 Desember 1055 M/447 H pimpinan Saljuq itu memasuki Baghdad. Al-Malik al-Rahim, Amir al-Umara Bani Buwaih yang terakhir, dipenjarakan. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Buwaih dan bermulalah kekuasaan Dinasti Saljuq.
4. Saljuq (1055-1194 M)
Jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Saljuq bermula dari perebutan kekuasaan di dalam negeri. Ketika al-Malik al- Rahim memegang jabatan Amir al-Umara, kekuasaan itu dirampas oleh panglimanya sendiri, Arselan al-Basasiri. Dengan kekuasaan yang ada di tangannya, al-Basasiri berbuat sewenang-wenang terhadapal Al-Malikal-Rahim dan Khalifah al-Qaimdari Bani Abbas; bahkan dia mengundang khalifah Fathimiyah, (al-Mustanshir, untuk menguasai Baghdad. Hal ini mendorong khalifah meminta bantuan kepada Tughril Bek dari dinasti Saljuq yang berpangkalan di negeri Jabal. Pada tanggal 18 Desember 1055 M/447 H pimpinan Saljuq itu memasuki Baghdad. Al-Malik al-Rahim, Amir al-Umara Bani Buwaih yang terakhir, dipenjarakan. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Buwaih dan bermulalah kekuasaan Dinasti Saljuq. Pergantian kekuasaan ini juga menandakan awal periode keempat khilafah Abbasiyah. Dinasti Saljuq berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan keempat Hijrah mereka pergi ke arah barat menuju Transoxiana dan Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu. Mereka dipersatukan oleh Saljuq ibn Tuqaq. Karena itu, mereka disebut orang-orang Saljuq. Pada mulanya Saljuq ibn Tuqaq mengabdi kepada Bequ, raja daerah Turkoman yang meliputi wilayah sekitar laut Arab dan laut Kaspia. Saljuq diangkat sebagai pemimpin tentara. Pengaruh Saljuq sangat besar sehingga Raja Bequ khawatir kedudukannya terancam. Raja bermaksud menyingkirkan Saljuq.
Namun sebelum rencana itu terlaksana, Saljuq mengetahuinya. Ia tidak mengambil sikap melawan atau memberontak, tetapi bersama pengikutnya ia bermigrasi ke daerah land, atau disebut juga Wama Wara’a al-Nahar, sebuah daerah muslim di wilayah Transoxiana (antara sungai Ummu Driya dan Syrdarya atau Sihun). Mereka mendiami daerah ini atas izin penguasa dinasti Samaniyah yang menguasai daerah tersebut. Mereka masuk Islam dengan mazhab Sunni. Ketika dinasti Samaniyah dikalahkan oleh dinasti Ghaznawiyah, Saljuq menyatakan memerdekakan diri. Ia berhasil menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh dinasti Samaniyah. Setelah Saljuq meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, Israil. Namun, Israil dan kemudian penggantinya Mikail, saudaranya dapat ditangkap oleh penguasa Ghaznawiyah. Kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh Thugrul Bek. Pemimpin Saljuq terakhir ini berhasil mengalahkan Mas’ud al-Ghaznawi, penguasa dinasti Ghaznawiyah, pada tahun 429 H/1036 M, dan memaksanya meninggalkan daerah Khurasan. Setelah keberhasilan tersebut, Thugrul memproklamasikan berdirinya dinasti Saljuq. Pada tahun 432 H/1040 M dinasti ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Di saat kepemimpinan Thugrul Bek inilah, dinasti Saljuq memasuki Baghdad menggantikan posisi Bani Buwaih. Sebelumnya, Thugrul berhasil merebut daerah-daerah Marwadan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawiyah, Balkh, urjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray, dan Isfahan.
Posisi dan kedudukan khalifah lebih baik setelah dinasti Saljuq berkuasa; paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan setelah beberapa lama “dirampas” orang-orang Syi’ah, sebagai legitimasi pemerintahan, dinasti Saljuq tetap menggunakan khalifah-khalifah Bani Abbas, sedangkan dalam pengendali kekuasaan pemerintahan tetap berada ditangan sultan-sultan saljuq . Pembagian otoritas dan kekuasaan antara khalifah dan sultan tidak jelas posisinya. Sepanjang pemerintahan sultan-sultan saljuq berjalan dengan efektif, kedudukan politik khalifah menjadi sangat terbatas. Tetapi bila pemerintahan mengalami kendala, barulah khalifah diberi wewenang, Khalifah dipertahankan hanya untuk memberi dasar hukum kepada pemerintahan dinasti yang sedang berkuasa. Dan sudah merupakan suatu ketentuan pada masa itu bahwa Sultan yang tidak mendapat legalisasi dari khalifah tidak merupakan sultan yang sah. Khalifah Bani Abbas tidak bisa berbuat, semua kekuasaan ada ditangan para sultan.
Sepeninggal Thugrul Bek (455 H/1063 M), dinasti Saljuq berturut-turut diperintah oleh Alp Arselan (455-465 H/1063-1072), Maliksyah (465-485 H/1072-1092), Mahmud (485-487 H/1092-1094 M), Barkiyaruq (487 -498 H/1 094-1103), Maliksyah II (498 H/ 1103 M), Abu Syuja’ Muhammad (498-511 H/11 03-1117 M),dan Abu Haris Sanjar(511-522H/1117-1128 M). Pemerintahan Saljuq ini dikena1 dengan nama al-Salajikah al-Kubra (Saljuq Besar atau Saljuq Agung). Disamping itu, ada beberapa pemerintahan Saljuq lainnya di beberapa daerah sebagaimana disebutkan terdahulu. Pada masa Alp Arselan perluasan daerah yang sudah dimulai oleh Thugrul Bek dilanjutkan ke arah barat sampai pusat kebudayaan Romawi di Asia Kecil, yaitu Bizantium. Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi ini adalah apa yang dikenal dengan peristiwa Manzikart. Tentara Alp Arselan berhasil mengalahkan tentara Romawi yang besar yang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis, dan Armenia. Dengan dikuasainya Manzikart tahun 1071 M itu, terbukalah peluang baginya untuk melakukan gerakan penturkian (turkification) di Asia Kecil. Gerakan ini dimulai dengan mengangkat Sulaiman ibn Qutlumish, keponakan Alp Arselan, sebagai gubernur di daerah ini. Pada tahun 1077 M (470 H), didirikanlah kesultanan Saljuq Rum dengan ibu kotanya Iconim. Sementara itu putera Arselan, Tutush, berhasil mendirikan dinasti Saljuq di Syria pada tahun 1094 M/487 H.
Pada masa Maliksyah wilayah kekuasaan Dinasti Saljuq ini sangat luas, membentang dari Kashgor, sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem. Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian:
1. Saljuq Besar yang menguasai Khurasan, Ray, Jabal, Irak, Persia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
2. Saljuq Kirman berada di bawah kekuasaan keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Saljuq. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang.
3. Saljuq Irak dan Kurdistan, pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud. Saljuq ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh.
4. Saljuq Syria, diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn Saljuq, jumlah syekh yang memerintah lima orang.
5. Saljuq Rum, diperintah oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Saljuq dengan jumlah syekh yang memerintah seluruhnya 17 orang.
Disamping membagi wilayah menjadi lima, dipimpin oleh gubernur yang bergelar Syekh atau Malik itu, penguasa Saljuq juga mengembalikan jabatan perdana menteri yang sebelumnya dihapus oleh penguasa Bani Buwaih. Jabatan ini membawahi beberapa departemen.
Pada masa Alp Arselan, ilmu pengetahuan dan agama mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada zaman Sultan Malik Syah yang dibantu oleh perdana menterinya Nizham al-Mulk. Perdana menteri ini memprakarsai berdirinya Universitas Nizhamiyah (1065 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang Nizhamiyah . Menurut Philip K. Hitti, Universitas Nizhamiyah inilah yang menjadi model bagi segala perguruan tinggi di kemudian hari. Nizm Al Mulk. menulis dasar-dasar tehnik system pemerintah dalam karyanya yang berjudul Siyasah Namah
Perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak ilmuwan muslim pada masanya. Diantara mereka adalah al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir, bahasa, dan teologi; al-Qusyairy dalam bidang tafsir; Abu Hamid al-Ghazali dalam bidang teologi; dan Farid al-Din al-‘Aththar dan Umar Khayam dalam bidang sastra.
Bukan hanya pembangunan mental spiritual, dalam pembangunan fisik pun dinasti Saljuq banyak meninggalkan jasa. Malik Syah terkenal dengan usaha pembangunan di bidang yang terakhir ini. Banyak masjid, jembatan, irigasi dan jalan raya dibangunnya serta dibidang keagamaan, masa ini ditandai dengan kemenangan kaum Sunni
Setelah Sultan Maliksyah dan perdana menteri Nizham al-Mulk wafat Saljuq Besar mulai mengalami masa kemunduran di bidang politik. Perebutan kekuasaan diantara anggota keluarga timbul. Setiap propinsi berusaha melepaskan diri dari pusat. Konflik-konflik dan peperangan antaranggota keluarga melemahkan mereka sendiri. Sementara itu, beberapa dinasti kecil memerdekakan diri, seperti Syahat Khawarizm, Ghuz, dan al-Ghuriyah. Pada sisi yang lain, sedikit demi sedikit kekuasaan politik khalifah juga kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan dinasti Saljuq di Irak berakhir di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/l199 M.
Hal lain yang perlu dicatat dari masa ini dan masa sebelumnya adalah munculnya berbagai dinasti di dunia Islam yang menggambarkan mulai hilangnya persatuan dunia Islam di bidang politik. Seperti dinasti Fatimiyah lahir di Mesir (969) yang beraliran Syiah dan bertahan sampai tahun 1171. Dari segi budaya dan pemikiran keagamaan, terdapat berbagai wilayah dengan pusatnya sendiri yang masing-masing mempunyai peran sendiri dalam mengekspresikan Islam, sesuai dengan kondisi masing-masing. Misalnya, Andalus dan Afrika Utara mengem¬bangkan seni yang mencapai puncaknya pada al-Hambra dan pemikiran filsafat denngan tokoh Ibn Tufail dan Ibn Rusyd
5. Ghaznawiyah (999-1040 M)
Pendirinya bernama Sabaktakin Keturunan Al Takin berkebangsaan Turki, Salah seorang pendiri kerajaan kecil bani Saman. Berikutnya Alptakin dianggkat oleh Abd. Malik Bin Nuh raja bani Saman sebagai gubernur di Hirah, sebelah barat laut Afghanistan. Setelah Abd. Malik Ibn Nuh wafat dan maka kursi kekhalifahan di gantikan oleh Mansur Ibn Nuh, Alptakin beserta anak bauhnya hijrah ke Ghazna di wilayah Afghanistan tahun 962 M.
Setelah Al Takin meninggal tahta kepemimpinan dilanjutkan oleh Sabaktakin, Sabaktakin berjuang membangun pemerintahan selama 20 tahun, Kemudian selanjutnya roda pemerintahan dijalankan oleh putranya yang bernama Mahmud Ghaznawi (388 H/999 M.) dengan tetap mengatasnamakan Dinasti Samani,
Mahmud Ghaznawi selain ahli dalam bidang strategi perang, dia juga di Sebagai seorang yang konsen terhadap pengembangan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan. Ilmua dan seniman ia tempatkan di Istana, dibiayai dan mendapat dukung penuh dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya. Diantara tokoh yang muncul pada masa ini adalah Al Biruni dan Al Firdausy.
Al Biruni , nama lengkap adalah Abu Al Rayhan Muhammad bin Ahmad al Biruni, lahir Kota Kath pada tahun 362 H/973 M, ibu kota Khawarizm. Diantara karya-dan penemuan yang termasyhur adalah :
a) Teory Perputaran Bumi pada porosnya yang mengelilingi bumi, sekitar 600 tahun sebelum Galileo lahir.
b) Besarnya ketiga sudut segi tiga adalah 180 0
c) Peletakan dasar-dasar ilmu ukur
d) Tarikh al Hind
e) Al Qanun al Mas’ud fi al Haya wa an Nujum (eksiklopedi astronomi)
Sedangkan Al Firdausi (1020 M) ia seoranng tokoh penting dalam kebangkitan kembali sastra Persia, Ia Penyair dari Tus yang atas dorongan dari bani Saman dan dari Mahmud Ghaznawi dalam mengembangkan karya-karyanya.termasuk di bidang arsitektur dan seni-seni lainnnya.
Selain kedua tokoh diatas tercatat pula nama ilmuan lainnya yang tak kalah populer dengan tokoh diatas seperti Ibn al Arraq, Ibn al Khammar, al Marasyi, al Utby, al Baihaqy, Al Furakhi, al Asyadi, dan Badi’ Zamal al Hamdani.
Pada perkembangan berikutnya Ghaznawiyah kemudian meluaskan daerah kekuasaannya sampai ke India . Punjab dan Sind masuk kebawah kekuasaan Islam. Namun setelah khalifah Mas’ud (putra dari Mahmud) sultan-sultan dinasti Ghaznawiyah waktu ke waktu kian melemah hinga akhirnya kekuasaan Ghaznawi hancur dikalahkan oleh pengikut-pengikut Ghaur Kahn yang juga salah satu suku bangsa Turki.

III. KESIMPULAN
Keruntuhan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad IX, . Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan. Pengangkatan anggota militer Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah.
Dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, diantaranya : Pertama, berbangsa Persia: Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820 -908 M)), Samaniyah di Transoxania, (261-389 H/873-900 M), Buwaihiyah, bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 934-1055 M). Dan lain-lain. Kedua, berbangsa Turki: Ghaznawiyah di Afghanistan, (351-585 H/999-1040 M). Dinasti Saljuq yang didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhriul Beq ibn Mikail ibn Saljuq ibn Tuqaq (429-522H/1055-1194 M).
Selain berbangsa Persia dan Turki terdapat juga dinasti-dinastiI berkebangsaan Kurdi dan Arab serta mengaku sebagai khilafah seperti Umawiyah di Spanyol dan Fatimiyah di Mesir, maka dari latarbelakang dinasti-dinasti itu, nampak jelas adanya persaingan antar bangsa, terutama antara Arab, Persia dan Turki. Disamping itu latar belakang teologi (mu’tazilah dan Sunni) juga turut mewarnai keberadaan dinasti-dinasti kecil di Timur Baghdad.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, K., Sejarah Islam;Tarikh Pramodern, (Jakarta , Persada : 2003)
Black,. Anthoni, Pemikiran Politik Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini (Serambi : Jakarta :, 2006).
Hitti, Philip Khurri, , History of Arabs, Terj. (Serambi : Jakarta, 2000)
http://yodisetyawan.wordpress.com/2008/05/19/periodisasi-dinasti-abbasiyah 21-10-2008
Lapidus, Ira M., A History Of Islamic Societes, Terj. Ghufron A. Mas’adi Bagian I & II (Rajawali Press :Jakarta, 1999).
Nasution, Harun, Islam : Di Tinjau Dari Berbagai Aspeknya, (UI Press : Jakarta, 1986)
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, (Prenada Media : Jakarta, 2003 )

PENDEKATAN STUDI WILAYAH DALAM STUDI ISLAM
Oleh : Marasakti Bangunan, S.Ag.
Nim. 08/KOMI/1374

A PENDAHULUAN
Sebagai fenomena universal yang kompleks, keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial, tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial.
Islam, sejak kemunculannya pada awal abad ke-7 masehi, membuat Barat (Eropa) serba “tidak enak”. Apalagi ketika Arab-Islam (kurang lebih pada abad ke-8 dan ke-11 M) sedang berada di puncak peradaban dunia yang membawa pengaruh besar dari segi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan yang terpenting pengaruh ilmu pengetahuan terhadap bangsa-bangsa lain. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia-Afrika, tetapi sampai pada kawasan Eropa.
Dengan latar belakang psiko-historis di atas. Islam pada abad-abad lampau itu dicurigai, ditakuti tapi diam-diam juga dicemburui dan dikagumi. Perasaan-perasaan ini semakin mengental menjadi ketertarikan untuk mengkaji dunia Timur ketika adanya kebutuhan akan kekuasaan kolonial Eropa Barat untuk belajar dan memahami masyarakat yang mereka kuasai. Maka tidak heran bila sistem pengetahuan Orientalisme selama berabad-abad menjadi alat kepentingan kolonialisme. Akan tetapi ketika kolonialisme yang memayungi corak Orientalisme abad 18, 19, dan 20 lenyap, justru Orientalisme itu sendiri semakin terlembaga. Dengan otoritas akademis dan tradisi literatur yang berwibawa, Orientalisme pasca kolonial ingin menjadi suatu “obyektivitas ilmiyah” dalam melihat Timur dan ketika kajian orientalisme sebagai obyek kemudian dilakukan di beberapa universitas Muslim yang lebih lanjut mengilhami studi akan budaya Barat yang dilihat dari sudut pandang dan prespektif “selain” Barat. Kajian ini menekankan faktor subyektifitas Timur dalam membaca dan mengkaji Barat, inilah kemudian yang disebut ‘ilmu Oksidentalisme
Studi Wilayah sebagai sebuah disiplin imu mencoba memahami latar belakang budaya, cara hidup, cara pikir, dan ciri khas masing-masing wilayah/region, agar dapat bisa diambil sikap atau antisipasi, terutama di era globalisasi, yang telah meruntuhkan sekat-sekat kewilayahan. Pendekatan kawasan ini dapat digunakan untuk menjelaskan hasil penelitian tentang suatu masalah dimana masalah itu terjadi misalnya studi Islam yang ada di Timur Tengah, Eropa, Afrika, Asia Tenggara, dan lain sebagainya. Eksistensi Islam pada masing-masing kawasan tersebut memiliki warna tersendiri sesuai dengan latar belakang wilayah tersebut, termasuk pengaruh budaya/tradisi-adat istiadat, politik, ekonomi dan lain-lain.
Maka makalah singkat ini coba menjelaskan pengertian dan latar belakang Studi Wilayah, Orientalisme ; Asal, Perkembangan dan keberadaannya saat ini, Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang Dunia Islam Sebagai sebuah kajian Wilayah (Dunia Islam dimaksud adalah : Timur Tengah, Timur Dekat, Asia Tenggara dan Indonesia), Selanjutnya mengupas beberapa persoalan mengenai Problematika Pendekatan Kajia Wilayah dalam Studi Islam serta pada bagian akhir pembahasan mengupas signifikansi dan kontribusi Kajian Wilayah dalam studi Islam.
B PEMBAHASAN
1. Pengertian, Latar Belakang Dan Perkembangan Studi Wilayah
Studi Wilayah dikenal sebagai “area studies” atau “regional studies” yang berarti studi tentang potensi wilayah/negera tertentu dari berbagai aspek. Studi Wilayah bertujuan mengidentifikasi dan mengurai potensi wilayah/negara tertentu dari sisi bahasa, sastra, sejarah, budaya, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Studi Wilayah juga dapat menekankan pada satu disiplin, seperti studi wilayah dari sisi sejarah. Di Indonesia pada umumnya studi wilayah pada bidang kemampuan berbahasa .
Menurut Abdullah Dahana Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) bahwa kurikulum pengajaran studi wilayah, yang sekitar 50 persennya merupakan kemampuan berbahasa, dinilai sudah tepat. Namun, untuk memenuhi tuntutan globalisasi harus banyak dimasukkan ilmu-ilmu lain, seperti sosiologi, sejarah, komunikasi antar budaya, multikulturalisme, politik, dan studi keanekaragaman budaya.
Setidaknya ada tiga sebab utama pentingnya studi wilayah di Indonesia:
a) . Membantu reorientasi pembangunan (termasuk dibidang pendidikan) yang sesuai dengan geografis Indonesia.
b) . Impaks dunia luar tehadap indonesia
c) . Mendidik ahli wilayah yang dapat dihandalkan kedepan.
Salah satu potensi studi wilayah yang terabaikan, adalah sumbangannya untuk mencegah disintegrasi bangsa. Dengan memahami latar belakang budaya, cara hidup, cara pikir, dan ciri khas masing-masing daerah, bisa diambil sikap antisipasi terhadap kemungkinan perpecahan. Karena era globalisasi, yang meruntuhkan sekat-sekat kewilayahan, harus disikapi dengan mengubah kurikulum studi kewilayahan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Studi wilayah perlu di kembangkan baik dalam rangka reorientasi kurikulum studi kewilayahan di Perguruan Tinggi di Indonesia, juga dalam rangka menentukan orientasi pembangunan kedepan. Terutama studi wilayah negara-negara yang berkaitan erat dengan posisi indonesia dari segi politik, ekonomi, pertanahan dan kemanan, seprti studi wilayah tehadap negara-negara ASEAN, Eropa, dan Timur Tengah. Dengan pengembangkan studi wilayah seperti itu maka Indoenesia akan memiliki ahli-ahli wilayah yang memeiliki pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat, proses politik, ekonomi dan kekuatan hankam negara yang menjadi objek studi.
2. Orientalisme: Asal, Perkembangan Dan Keadaan Komtemporer

Orientalisme berasal dari kata orient bahasa Perancis, yang secara harfiah bererti timur dan secara geografis berarti dunia belahan timur dan secara etimologi berarti bangsa-bangsa di timur. Kata orientalisme memasuki berbagai bahasa di Eropa termasuk bahasa Inggris. Oriental adalah sebuah kata sifat yang berarti hal-hal yang bersifat Timur yang sangat luas ruang lingkupnya. Suku Kata Isme (Belanda) dan ism (Inggris) menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi Orientalisme berarti suatu paham atau aliran yang berkeinginan meneyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan denga bangsa-bangsa di Timur beserta lingkungannya .
Studi Orientalisme memiliki pengertian yang sangat luas, namun secara sederhana dapat diartikan studi tentang budaya dan peradaban “orient” (Timur), yaitu yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan sejarah bangsa-bangsa di dunia Timur, seperti studi tentang archeology, history, linguistics, religion, literatures (sastra), customs (adat istiadat), ethnology (etnik), politik, economi, geografi dan lain-lain. Selanjutnya Orientalisme juga tidak hanya studi beberapa peradaban di dunia Timur (Islam) semata, tetapi juga mencakup budaya-budaya Cina, India, Mesir, dan juga Lembah Tigris-Eufrat .
Sepanjang perkembangan sejarah, kajian orientalis tentang Islam dan kaum Muslim pada umumnya telah mengalami pasang surut dan memiliki fase-fase kekhususannya sendiri. Ada beberapa tahapan penting dalam sejarah terbentuknya Orientalisme.
Pertama, tanggapan awal kedatangan dan perkembangan Islam (sejak abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi). Pada masa itu kesan Barat tentang Islam dan kaum Muslim tidak akurat dangan sangat negatif. Menurut W. Montgomery Watt ada “citra standar” masyarakat Eropa—yang telah dibangun oleh para teolog Kristen—tentang Islam. Kesan-kesan tersebut adalah: Islam merupakan agama yang keliru dan merupakan pemutarbalikan secara sengaja terhadap kebenaran Kristen; Islam adalah agama yang disebarkan melalui kekerasan dan pedang; Islam adalah agama hawa nafsu; dan Muhammad adalah anti Kristus. Di samping empat citra tersebut, mereka juga memandang al-Qur’an sebagai kitab suci palsu buatan Muhammad sendiri dengan mengambil bahan-bahan dari perjanjian lama, perjanjian baru dan dari kaum murtad. Anggapan para teolog dan ahli Kristen semacam itu terhadap Islam disebabkan sikap permusuhan mendalam yang muncul dari ekspansi Islam ke wilayah-wilayah yang dikuasai Bizantium, juga karena terbatasnya informasi lebih akurat yang mereka dapatkan tentang Islam .
Kedua adalah era pasca Perang Salib. Kalau pada tahapan pertama para penyelidik masih mempunyai jarak dengan kaum Muslim di belahan Timur, maka pada tahapan kedua ini setelah beberapa gelombang Perang Salib di jantung kota Arab-Islam, ilmuwan-ilmuwan dan sarjana-sarjana Barat yang menyertai misi suci tersebut dengan leluasa berkenalan lebih dekat dengan sumber-sumber asli peradaban Islam. Dan karena sumber-sumber itu semuanya berbahasa Arab, maka mendorong munculnya studi filologi bahasa Arab sehingga pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 dimulailah gerakan Orientalisme yang sebenarnya. Beberapa tokoh yang menfokuskan pada kajian bahasa Arab di antaranya adalah: Guillaume Postel (1540-1581), Thomas Van Erpe (1584-1624), Francis Van Ravelingen (1539-1597), Jacob Golius (1596-1667), dan George Sale (1697-1736) . Seiring dengan keberadaan tokoh-tokoh ini, pusat-pusat kajian keislaman didirikan di kota-kota penting Eropa. Pada 1539 departemen bahasa Arab didirikan di College de France Universitas Sorbonne Prancis. Pada 1613 di Belanda didirikan sebuah institut buat kajian yang sama. Dan pada waktu yang bersamaan Oxford dan Cambridge menyusul mendirikan kajian ke-Timur-an di mana kajian Arab-Islam merupakan yang terpenting . Akhirnya, pada abad ke-18 ditandai keinginan untuk melihat Timur-Islam dalam sudut pandang yang lebih memadai. Implikasinya, yang dibutuhkan lebih dari sekedar kajian-kajian filologis.
Ketiga, yaitu era Kolonialisme dan Imperialisme Eropa ke hampir ke seluruh negeri dan bangsa non-Barat, khususnya dunia Islam. Orientalisme pada tahap ketiga ini merupakan “ajudan” para kolonialis dan alat yang paling ampuh buat mendalami kondisi sosio-historis negeri-negeri jajahan Barat. Pada masa ini dunia Timur tidak lagi menjadi obyek kajian atau obyek studi (yang murni), tetapi telah menjadi obyek kekuasaan dan kesewenang-wenangan bangsa yang lebih kuat. Dan yang mengiringi periode kolonialisme ini adalah ide Evangelisme (penginjilan). . Ide dasar Evangelisme adalah bahwa keselamatan (salvation) terletak hanya pada pengakuan dosa dan penerimaan gospel Kristen. Evangelisme menciptakan konfrontasi antara Kristen Eropa dan Muslim dalam skala lebih besar daripada masa-masa sebelumnya karena pertumbuhan aktivitas misionaris terorganisasi dan perluasan kekuasan Eropa atas wilayah-wilayah Muslim. Menurut Azyumardi Azra, pada permulaan abad ke-19 (ketika kolonialisme dan imperialisme mencapai puncaknya), setidaknya terdapat dua model citra Eropa terhadap Islam. Pertama, menganggap Islam menjadi musuh dan rival Kristen. Kedua, menganggap Islam sebagai bentuk pencapaian akal dan perasaan manusia dalam usaha mereka untuk mengetahui dan merumuskan sifat Tuhan dan alam
Pada perkembangan selanjutnya, Orientalisme bukanlah sebagai kajian obyek yang mempunyai metode tersendiri, tetapi ia kini menjadi obyek kajian, yaitu setelah terbukanya “keburukan-keburukan” Orientalisme melalui kritik yang datang baik dari kalangan luar (Muslim) seperti yang dilakukan A. L. Tibawi, Anwar Abdul Al-Malik, dan Abdallah Laroni, serta dari kalangan dalam sendiri (Barat), misalnya oleh Edward Said, Foucoult, Recourr, dan Bourdeau . Orientalisme tidak lagi menjadi karir yang patut dibanggakan, bahkan sebaliknya, para pengkaji ke-Timur-an dari Barat akan merasa risih untuk disebut dirinya sebagai orientalis, karena istilah tersebut sangat pejoratif. Mereka lebih suka untuk dipanggil “Islamolog”, “Egypolog” dan sejenisnya. Kajian Orientalisme sebagai obyek kemudian dilakukan di beberapa universitas Muslim yang lebih lanjut mengilhami studi akan budaya Barat yang dilihat dari sudut pandang dan prespektif “selain” Barat. Kajian ini menekankan faktor subyektifitas Timur dalam membaca dan mengkaji Barat, inilah kemudian yang disebut ‘ilmu Oksidentalisme’
Studi Okisidentalisme yang di gagas oleh Hasan Hanafi lewat bukunya yang berjudul Muqaddimah fil ilmi Istighrab, mengajak umat Islam mengkritik hegemoni cultural, politik, dan ekonomi Barat yang berlindung di balik baju orintalisme. Kemunculan Oksidentalisme di akhir abad ke XX diorientasikan untuk membebaskan dunia Timur dari cengkraman Barat. Hanya saja ego oksidentalisme lebih obyektif, netral dan lebih bersih dari ego-nya Orinetalisme.
3. Dunia Islam Sebagai Objek Kajian Wilayah : Timur Tengah, Timur Dekat, Asia Tenggara dan Indonesia.

Islam, sejak kemunculannya pada awal abad ke-7 masehi, membuat Barat (Eropa) serba “tidak enak”. Apalagi ketika Arab-Islam (kurang lebih pada abad ke-8 dan ke-11 M) sedang berada di puncak peradaban dunia yang membawa pengaruh besar dari segi politik, sosial, ekonomi, budaya, terhadap bangsa-bangsa lain. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia-Afrika, tetapi sampai pada kawasan Eropa.
Kini Islam telah tersebar diseluruh pelosok dunia, Islam tidak hanya subur di tempat kelahirannya (Arab-Timur Tengah), tetapi Islam juga berkembang di kawasan Eropa (Barat). Dan kawasan lainnya, Namun fenomena Islam dikawasan timur tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia sering menjadi objek pembahansan actual.
Timur Tengah adalah terjemahan dari “Middlle East” suatu istilah yang sejak perang dunia II digunakan orang Inggris dan Amerika Serikat untuk menyebut kawasan sebagian besar terletak di Asia Barat Daya dan Afrika Timur Laut. Istilah itu berasal dari perluasan wilayah komando militer Inggris yang mula-mula mencakup negara-negara disebelah Timur Terusan Suez, sebagai persiapan perang. Dalam perang itu istilah tersebut menajdi lazim dan hampir sama sekali menggantikan istilah-istilah yang lebih tua seperti Near East dan Levant, secara kasar Timur Tengah dibagi menjadi dua, yaitu dunia Arab dan dunia bukan Arab, Sedangkan secara detail tidak ada kata sepakat negara-negara mana yang termasuk kawasan Timur Tengah,.
Timur Tengah mempunyai posisi geografis yang khas dan lain daripada yang lain. Kawasan ini merupakan wilayah yang terletak pada pertemuan Eropa, Asia, dan Afrika, dan dengan demikian ia menguasai jalur-jalur strategis yang menuju ke ketiga benua tersebut. Banyak orang yang tergoda untuk menyebutnya pusat belahan Timur. Sejak masa lampau sebelum tarikh Masehi, Jalan darat dan jalan laut terdekat dan yang paling nyaman dari Eropa ke Asia adalah melalui Timur Tengah. Di masa lalu, hal ini terkenal dengan istilah “Silk Road” (Jalur Sutera). Hampir setiap imperium besar dalam sejarah dunia pernah menguasai seluruh atau sebagian wilayah ini, atau seringkali iri melihatnya.Seorang pengamat Timur Tengah yang bernama Marshall C.G. Hodgson mengungkapkan bahwa apa yang dimaksud dengan “Timur Tengah” adalah wilayah-wilayah yang membentang dari Sungai Nil di sebelah Barat hingga ke sungai Oxus di sebelah Timur (from Nile To Oxus ) .
Dalam kaitannya dengan perkembangan peradaban dunia, setelah awal kemunculannya di abad ke-7 Masehi, Islam telah meletakkan fondasi yang kokoh selama beratus-ratus tahun kemudian dalam membangun suatu peradaban yang teramat tinggi di kawasan Timur Tengah. Karena Islam menjadi nafas utama dalam peradaban ini,
Dewasa ini Timur Tengah adalah kawasan yang telah mengalami perubahan revolusioner dan tampak sekali dalam kehidupan politik dalam negeri, ekonomi, struktur masyarakat, dan hubungan internasionalnya, Paham sekularisme telah merasuk sedemikian rupa terhadap sendi-sendi kehidupan bernegara, Kawasan ini sedang mengalami peralihan umum dari tradisionalisme menuju modernisme, Timur tengah bukanlah suatu kesatuan yang bulat, bahkan kerapkali terjadi perselisihan, dan dalam hubungannya dengan dunia Barat terjadi pro dan kontra, selain itu terdapat pula negara-negara yang panatis-konservatif dan moderat-revolusioner terhadap Islam.
Sepertinya sulit untuk menciptakan persatuan di kalangan para Pemimpin Negara Arab. Hal ini diakibatkan oleh beberapa factor, yaitu perasaan Tribalisme yang masih kuat di kalangan bangsa Arab, sulitnya mencari figure yang bisa dijadikan pemimpin bangsa Arab, karena besarnya ego para pemimpin negara-negara Arab, perbedaan aliran dan kredo dalam agama Islam itu sendiri yang seringkali menajdi masalah yang amat sensitive (khususnya antara Sunni dan Syi’ah) serta adanya campur tangan pihak-pihak asing, khususnya negara-negara Barat yang berkepentingan demi menjaga kelancaran pasokan minyak ke negara mereka masing-masing . Apa yang disebut dengan Pan Arabisme masih merupakan cita-cita, Liga Arab yang yang dibentuk sebagai alat pemersatu masih terbentur dengan perbedaan kepentingan yang kontradiktif .
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa Timur Dekat adalah istilah yang lebih tua dari Timur Tengah, Hal ini diilhami oleh pemahaman orang-orang Eropa yang menganggap bahwa wilayahnya terdapat di belahan bumi bagian Barat, sehingga daerah lain yang berada jauh dari wilayahnya disebut sebagai bumi belahan Timur. Oleh karena itulah mereka menamai wilayah kekaisaran China dan sekitarnya sebagai “Timur Jauh” (Far East). Sedangkan kawasan jazirah Arabia dan sekitarnya, yang terletak diantara daratan Eropa dan Negeri China, disebut sebagai “Timur Dekat” (Near East). Selain mencakup Asia Barat Daya, istilah Timur Dekat juga mencakup wilayah-wilayah Eropa Tenggara yang pada masa lampau pernah berada dalam kendali kekuasaan Imperium Uthmaniyah.
Islam di Asia Tenggara merupakan bagian integral dari Dunia Muslim, dan karena itu sepatutnya mendapat perhatian dari lingkungan Muslim di tempat-tempat lain, termasuk di Timur Tengah. Islam di kawasan Asia Tenggara dalam persepsi Timur Tengah sering dipandang sebagai “Islam yang tidak murni”. Bukan rahasia lagi, bahwa bahkan pakar, cendekiawan, dan ulama Indonesia atau Malaysia yang ahli tentang Islam, seperti dalam bidang hadis, fikih, tafsir, dan sebagainya oleh kalangan ulama dan akademisi di Timur Tengah dianggap bukan ahli Islam yang sesungguh-sungguhnya.
Kenyataan yang tidak atau kurang menguntungkan tersebut tidak hanya terkait dengan persepsi di kalangan masyarakat dan akademisi Timur Tengah sendiri. Saya kira juga terkait dengan kurangnya promosi di Timur Tengah tentang kajian-kajian Islam di Asia Tenggara atau Indonesia. Memang, di beberapa universitas Timur Tengah seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Ain Syams, atau Universitas Kairo beberapa mahasiswa Indonesia dan Malaysia menulis tesis atau disertasi tentang aspek-aspek tertentu Islam di tanah air mereka, seperti fikih, tasawuf, atau ulama tertentu Melayu-Indonesia. Tetapi, kelihatannya tesis dan disertasi ini belum memadai untuk mempromosikan kajian Islam Asia Tenggara di Timur Tengah.
Di kalangan universitas Timur Tengah sendiri sangat sulit mencari pakar yang memiliki spesialisasi tentang Islam di Dunia Melayu-Indonesia. Hanya ada satu dua pakar saja di Timur Tengah yang cukup ahli tentang Islam di Asia Tenggara; keterbatasan kuantitatif ini membuat mereka sulit mengembangkan institusi kajian Islam di Asia Tenggara. Namun kemudian ada pergeseran yang signifikan dalam memandang Islam di Asia Tenggara. Sejak era 80an, banyak sarjana yang mulai memandang Islam Asia Tenggara dengan semestinya. Jika dikaitkan dengan kecenderungan akademik global, berkembangnya area studies (studi kewilayahan) memberikan peluang bagi Islam untuk dijadikan bahasan. Selama ini studi keislaman selalu masuk dalam wilayah kajian Timur Tengah (Middle Eastern Studies).
Perubahan pandangan itu bukan saja karena secara jumlah umat Islam di Asia Tenggara adalah jumlah terbesar di dunia, melainkan karena adanya pengakuan akan kekhasan Islam di Asia Tenggara. Perbedaan manefestasi keagamaan di Asia Tenggara dengan yang ada di Timur Tengah tidak lagi disikapi sebagai sebuah “ketidak murnian, tetapi justru kekayaan budaya keislaman”.
Sinkretisme Islam bukanlah hal yang tabu, karena ternyata hal itu juga terjadi di wilayah lain, termasuk apa yang terjadi di Timur Tengah sendiri. Perbedaan manifestasi keagamaan itu seharusnya dilihat sebagai sebuah cara bagaimana umat Islam di wilayah tertentu menerjemahkan Islam sesuai dengan realitas budayanya.misalnya tulisan Arab Jawi atau pegon sesungguhnya merupakan kekayaan Islam di wilayah Asia Tenggara, karena menggabungkan antara tradisi agama dengan tradisi lokal.
Islam di Asia Tenggara juga dipandang sebagai representasi “lain” yang positif dari wajah Islam yang banyak digambarkan sebagai “penuh kekerasaan dan sangat agresif” yang ada di Timur Tengah. Kemampuan Islam di Asia Tenggara untuk beradaptasi dengan budaya lokal dan dapat menampilkan wajahnya yang ramah dan toleran menjadi penawar bagi potret Islam yang keras dan agresif tersebut. Islam di Asia Tenggara memberikan contoh yang baik bagaimana sebuah agama dapat berkembang dalam masyarakat yang plural dan multi etnis.
Islam Asia Tenggara juga mempunyai kredit dalam masalah berhubungan dengan Barat. Walaupun hubungan intelektual dengan Timur Tengah terus terjalin, Islam Asia Tenggara membuka hubungan intelektual dengan pusat-pusat peradaban Barat. Kalau sebelumnya perdebatan wacana keagamaan didominasi oleh mereka yang belajar ke Timur Tengah, sekarang perdebatan itu beragam dengan masuknya alumni-alumni universitas Barat.. Akibatnya adalah, umat Islam di Asia Tenggara dapat dengan akrab berdiskusi dengan isu-isu global seperti civil society atau masyarakat madani, demokrasi, isu-isu gender, isu hak asasi manusia dan lain-lainnya. Di Indonesia misalnya, political will masyarakat Indonesia untuk mengusung demokrasi setelah kejatuhan rezim Orde Baru membuktikan akan kesiapan umat Islam Indonesia untuk membuka pintu bagi wacana-wacana global.
Tetapi belakangan, wajah Islam Asia Tenggara yang toleran, ramah, liberal dan modern tiba-tiba dikejutkan dengan berita-berita tentang gerakan Islam radikal. Berita-berita di media lokal maupun media asing menyuguhkan tentang kecenderungan radikal umat Islam di Indonesia. Islam di Asia Tenggara menjadi “hot news” dalam bentuk yang sangat berbeda; Islam Asia Tenggara menjadi “the nest of terrorism” (sarang terorisme). Dari berita tentang fatwa Jihad hingga perjuangan menerapkan Syari’at Islam di Indonesia tak henti-hentinya menjadi topik pembicaraan.
Kemunculan Islam garis keras di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor. Pertama, faktor pemahaman keagamaan literal telah mengakibatkan adanya kecenderungan “keras” dalam mempraktekkan agama.Kedua, adanya interaksi Muslim Indonesia dengan dunia Muslim internasional. Hal itu dimungkinkan lewat informasi media maupun internet yang dapat diakses dengan mudah. Hubungan dengan Muslim international dimungkinkan karena difasilitasi mobilitas Muslim Indonesia ke luar negeri baik melalui jalur kerja—seperti ke Saudi dan Malaysia—ataupun atas nama solidaritas sesama Muslim—ikut berperang di Afghanistan maupun Mindanau. Ketiga, faktor politik global—demokrasi—yang tidak dapat dibendung lagi. Bagi kalangan tertentu—terutama mereka yang berpaham literal—melihat demokrasi sebagai ancaman terhadap eksistensi sistem politik yang berlandaskan agama .
Apakah betul wajah Islam telah berganti? Kemana wajah Islam yang ramah dan toleran dulu? Secara jujur harus dikatakan bahwa mainstream Islam di Indonesia masih tetap Islam yang ramah dan toleran. Dua organisasi besar di Indonesia NU dan Muhammadiyah yang menjadi naungan mayoritas Muslim Indonesia adalah penyebar dari pemahaman Islam yang ramah dan toleran.

4. Problematika Kajian Wilayah Dalam Studi Islam

Pendekatan kewilayahan (region) dalam studi Islam amat diperlukan dalam upaya memahami Islam secara universal, Pendekatan kewilayahan bukan hanya didekati dari sisi kewilayahan administratif, akan tetapi juga pendekatan-pendekatan kewilayahan lainnya yang sesuai dengan kondisi wilayah dan potensi masyarakat, ada beberapa pendekatan kewilayahan lainnya, seperti pendekatan wilayah dari sisi histories masuknya agama Islam ke wilayah tersebut, pendekatan wilayah dari social budaya, pendekatan wilayah dari segi linguistic (sastra dan kebahasaan), pendekatan wilayah dari segi politik dan dasar negara dan pendekatan kewilayahan lainnya.
Jika demikian keadaannya maka studi orientalisme dan oksidentalisme adalah bahagian dari studi wilayah, tetapi studi wilayah tidak hanya focus pada kawasan Timur dan Barat semata. Karena studi Wilayah juga dapat dilakukan “kedalam”, maksudnya ke kawasan sendiri, guna melihat perkembangan budaya dan peradaban dalam negeri dan lain-lain untuk kepentingan pembangunan kedepan sebagaimana disebutkan diatas.
Bila dikaitkan dengan agama maka “ruang gerak” agama sangat terkait dengan iklim kawasan, karena setiap wilayah/negara tidak sama dalam memposisikan agama, baik dari sudut pemerintahan, politik, dan dasar negara. Akan lebih berbeda lagi bila konteks ruang gerak agama itu dikorelasi dengan social budaya.
Budaya dan cultural masyararakat beretnis heterogen tentu berbeda dengan yang beretnis homogen, afiliasi pemerintah kepada mazhab (teologi/fiqh) tertentu akan berbeda aplikasi/pengamalan agamanya dengan wilayah/region yang sama sekali tidak mengurusi hal itu. Maka dapatlah dikatakan bahwa kajian Islam dengan berbasis wilayah menggiring kepada suatu kesimpulan bahwa masing-masing wilayah memahami agama sesuai dengan iklim wilayahnya sendiri.
Di tengah-tengah perbedaan itu, Islam—dengan karakter yang luwes—mengadopsi budaya lokal untuk memperkaya khasanah pengalamannya keislamanya. Perbedaan dalam menerjemahkan keislaman diberbagai wilayah termasuk di Indonesia sesungguhnya adalah, meminjam istilah Marshal Hodgson, “mosaic” yang memberikan keindahan gambar Islam dalam bentang budaya yang plural. Makanya tidak mengherankan jika Asia Tenggara mempunyai variasi karakter keislaman yang khas; ada Melayu, Aceh, Jawa, Bugis, Banten, Sunda, Patani, Mindanau, Brunei dan sebagainya. Demikian juga timur tengah dan eropa dengan gaya dan cirri khas masing-masing.
Selanjutnya memang sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. Karenannya kajian tentang pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia, tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah “takdir sosial” yang tak perlu lagi dipahami.
Selanjutnya pendekatan wilayah dalam kajian islam membutuh disiplim ilmu lain, seperti isejarah, antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, arkeologi, linguistic, dan disiplin ilmu lainya yang mendukung proporsionalnya pemahaman tentang wilayah/negara yang dimaksudkan.
5. Signifikansi Dan Kontribusi Pendekatan Ini Dalam Studi Islam

Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktik ritual agama. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang lebih tua-adalah sebuah bukti dari keterpautan antara nilai agama dan kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.
Kenyataan yang demikian itu juga memberikan arti bahwa perkembangan agama dalam sebuah masyarakat-baik dalam wacana dan praktis sosialnya-menunjukkan adanya unsur konstruksi manusia. Walaupun tentu pernyataan ini tidak berarti bahwa agama semata-mata ciptaan manusia, melainkan hubungan yang tidak bisa dielakkan antara konstruksi Tuhan-seperti yang tercermin dalam kitab-kitab suci-dan konstruksi manusia-terjemahan dan interpretasi dari nilai-nilai suci agama yang direpresentasikan pada praktek ritual keagamaan. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya-primordial-yang telah melekat di dalam dirinya. Hal ini dapat menjelaskan kenapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Kajian komparatif Islam di Indonesia dan Maroko yang dilakukan oleh Clifford Geertz misalnya membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Di Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik, sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya.
Namun sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayah-wilayah lain. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia, jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat, menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang dapat diikuti oleh manusia. Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Keberagaman sosial budaya yang ada di seluruh kawasan dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama.
Studi Islam melalui pendekatan studi wilayah menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. Karena dalam pandangan ilmu sosial, keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya, melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. Jadi jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama.
Mempelajari realitas kehidupan manusia, dapat dilakukan dari sudut wilayah dengan segala aspeknya, sebab masing-masing wilayah/region meiliki corak budaya yang beragam sebagai akibat dari pemahaman yang berbeda terhadap agama dari sumber normatifnya, Maka untuk itu pendekatan wilayah dalam studi Islam tidak dapat berdiri sendiri tanpa ilmu bantu lainnya seperti sosilogi, antropologi dan ilmu-ilmu social lainnya. Maka dengan demikian akan diketahui corak keberagamaan sebuah wilayah dengan proporsional dan utuh.
Misalnya sebagai sebuah wilayah kajian maupun sebagai salah satu area kajian, Islam di Asia Tenggara dan Indonesia khususnya pada awalnya tidak menarik perhatian. Meskipun demikian, dalam perkembanngannya, dengan memakai ukuran apapun Islam di Asia Tenggara merupakan suatu komunitas Muslim penting. Tidak saja karena jumlah penduduk Muslim yang hampir separuh dari penduduk dunia Islam-dengan Indonesia yang mencapai 80 % dari 200 juta– tetapi juga karena perkembangan Islam di Asia Tenggara termasuk paling mengesankan.Ada beberapa alasan mengapa Islam di Asia Tenggara mendapat perhatian.
Pertama, Pergumulan intelektual Muslim Asia Tenggara dengan ide-ide gender, demokrasi, civil society ataupun human rights menempatkan Islam Asia Tenggara sebagai pelopor, atau paling tidak yang paling inten mengikuti perkembangan ide-ide global tersebut.
Kedua, corak pendidikan para intelektual Muslim di Asia Tenggara yang lebih menerima ide-ide ilmu sosial yang berkembang di Barat, seperti misalnya Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, Anwar Ibrahim, Chandra Muzaffar dan lain sebagainya, dalam menerjemahkan maupun mengartikulasikan nilai-nilai normatif Islam.
Ketiga, beragamnya suku bangsa dan etnis di Asia Tenggara, memberikan suatu gambaran nyata bagaimana Islam dapat survive sekaligus membentuk suatu komunitas religious. Memang keunikan Islam di Asia Tenggara memberikan citra yang kurang jika dibandingkan dengan Islam yang ada di masyarakat Arab.
Menurut Abuddin Nata model pendekatan kawasan ini digunakan untuk mengkaji Islam secara komprehensif yang terdapat pada suatu wilayah atau kawasan sehingga antara Islam yang berada pada suatu kawasan dapat dibedakan dengan Islam yang ada dikawasan lainnya tokoh yang mendekati Studi Islam melalui studi Kawasan/Wilayah antara lain : John L Esposito, Islam in Asia, Religion, politics society, David D. Newson, Islam in Asia Ally or Adversary, Arthur Goldschmidht : a consice History Of middle East, Azyumardi Azra : Jaringan Ulama Timur Tengah dengan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.

C KESIMPULAN

Islam memiliki daya tarik luar biasa sebagai sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya dikaji. Terbukti, sejak lama Islam menjadi objek studi, tidak saja di kalangan muslim tetapi juga di kalangan non muslim, untuk tujuan dan kepentingan beragam. Titik perhatian studi Islam juga beragam, baik pada tingkat Islam sebagai system keyakinan maupun Islam sebagai suatu system sosial. Artinya, banyak kalangan yang mempelajari Islam pada level doktrin (Islam normative), demikian juga banyak kalangan yang mempelajari Islam dari sisi manifestasinya dalam kehidupan social atau Islam yang ‘menyejarah’ (Islam histories).
Obyek studi ini berkembang sangat pesat dalam tradisi keilmuan Timur maupun Barat. Hal ini mengambil bentuk pada disiplin kajian Islam (Islamic studies), yakni suatu frame scientific yang menelaah dialektika dan sintesa doktrin dan dimensi kesejarahan dalam masyarakat Islam. Dengan kata lain bahwa kajian Islam sasarannya adalah ajaran Islam dan masyarakat Islam itu sendiri. Pendekatan yang digunakan dalam kajian Islam juga beragam, sebagaimana dipresentasikan dan diartikulasikan melalui tradisi islamic studies di Timur (dunia Islam) dan Barat. Kajian Islam di dunia Timur, lebih didominasi oleh pendekatan yang berorientasi pada penguasaan substansi materi dan penguasaan atas hazanah keislaman klasik. Itulah sebabnya, obyek utama kajian Islam dalam tradisi keilmuan Timur, lebih berpusat pada studi teologi (ajaran) yang bersifat ahistoris, bukan pada artikulasi atau fenomena keberagaman masyarakat yang bersifat histories. Dari pendekatan ini, akhirnya lahir para ahli ilmu agama yang hanya menguasai substansi doktrin atau ajaran agama, seperti ahli tafsir, ahli hadis.
Berbeda dengan ini, Islamic studies di Barat, kajiannya lebih berorientasi pada Islam, sebagai realitas atau fenomena social, yakni Islam yang telah menyejarah, meruang dan mewaktu. Islam dikaji dan dipelajari hanyalah sebatas Islam sebagai ilmu pengetahuan. Pendekatan yang digunakan lebih dominasi oleh penggunaan disiplin ilmu-ilmu social dan humanities, bukan pada kajian teologis doktriner sebagaimana studi keislaman di Timur.

DAFTAR BACAAN

Abdullah, M. Amin, “Kita juga Memerlukan Oksidentalisme”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No 4, Tahun 1992.
As-Syaukani,A. Lutfi, “Oksidentalisme: Kajian Barat setelah Kritik Orientalis dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5 dan 6 Vol. V, Th. 1994.
Azra,Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme. Paramadina : Jakarta: 1996.
Bukchari,A. Mannan , Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah : Jakarta : 2006)
Dipoyudo,Kirdi, Timur Tengah Dalam Pergolaka. Centre For Strategic And Internationa : Jakarta, 1982.
Fauzi, Ihsan Ali, Orientalisme di mata Orientalis: Maxim Rodinson tentang Citra dan Studi Barat atas Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 2, Th. 1992.
Hodgson, Marshall C.G., The Venture of Islam, Conscience and History in a World Civilazation.” Volume One. The Classical Age of Islam. Book One : The Islamic Infusion : Genesis a New Social Order. Cetakan Pertama. Paramadina : Jakarta, 1999.
http://naskahkuno.wordpress.com/2007/01/22/wajah-islam-asia-tenggara tanggal . 21-10-2008.
Kompas (Humaniora) , Kamis, 19 Februari 2004.
Lenczowski, George, Timur Tengah Di Kancah Dunia. Alih Bahasa : Asgar Bixby. Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2003.
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta : Rajawali Press, 2007.
Sou’yb, M. Yoesub, Orientalisme dan Islam, Jakarta :Bulan Bintang, 1985
Tjeng,Lie Tek, Studi Wilayah Pada Umunya : Asia Tenggara pada Khususnya, Jilid 1, Bandung : Alumni, 1977.
Watt,W. Montgomery, “The Study of Islam by Orientalists”, diterjemah oleh Alef Theria Wasim dalam Journal al-Jami’ah, No. 53 Th. 1993.
—————————- The Influence of Islam on Medieval Europe, Edinburg University Press, 1972.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada..1998.

PERBANDINGAN ALIRAN TENTANG DOSA BESAR, SIFAT ALLAH,
PERBUATAN MANUSIA DAN KEADILAN ALLAH
Oleh : Marasakti Bangunan, S.Ag.

I. PENDAHULUAN
Persoalan politik dimasa Khalifah Ali Bin Abi Thalib yang menerima abitrase dari Mu’awiyah Bin Abi Sofyan pada perang Siffin. Diduga sebagai titik awal munculnya persoalan teologi, yaitu timbulnya persolan kafir dan siapa yang tidak kafir dalam arti siapa yang tetap dalam Islam dan siapa yang sudah keluar dari Islam
Pada era selanjutnya Khawarij pun pecah kepada beberapa sekte, konsep kafir turut pula mengalami perubahan yang dipandang kafir bukan lagi hanya orang yang menentukan hukum dengan Al Qur’an, tetapi yang berbuat murtakib al-kabair (capital sinners), juga dipandang kafir. Persoalan berbuat dosa besar inilah yang kemudian turut andil besar dalam pertumbuhan teologi selanjutnya. Paling tidak ada tiga aliran teologi dalam Islam, pertama Khawarij yang memandang bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti keluar dari Islam atau murtad, oleh karenanya wajib dibunuh, kedua, Murjiah yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin bukan kafir, soal dosa besar yang dilakukannya, diserahkan kepada Allah untuk mengampuni atau tidak; ketiga, aliran Mu’tazilah yang menolak kedua pandangan-pandangan kedua aliran-aliran diatas. Bagi Mu’tazilah orang berdosa besar tidak lah kafir, tetapi bukan pula mukmin, mereka menyebutnya manzilah bainal manzilataini (posisi di antara dua posisi). Aliran ini lebih rasional bahkan liberal dalam beragama.
Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional dan cendrung liberal ini mendapat tantangan keras dari kelompok tradisional Islam, terutama golongan Hambali, pengikut mazhab imam Ibn Hambal, sepeninggal al Ma’mun pada dinasti Abbasiah, syiar Mu’tazilah berkurang bahkan berujung pada dibatalkannya sebagai mazhab resmi negara oleh khalifah al Mutawakkil. Perlawanan terhadap Mu’tazilah pun tetap berlangsung, mereka (yang menentang) kemudian membentuk aliran teologi tradisional yang digagas oleh Abu al Hasan al Asy’ari yang semula seorang Mu’tazilah. Aliran ini lebih dikenal dengan al Asy’ariah, di Samarkand muncul pula penentang Mu’tazilah yang dimotori oleh Abu Mansur Al Mauturidi., Aliran ini dikenal dengan Maturidiah.

II. PEMBAHASAN
Makalah ini secara sederhana akan membahas tentang perbandinngan pokok-pokok pikiran aliran dalam Islam tentang Dosa Besar, Sifat Allah, Perbuatan Manusia dan Keadilan Allah. Dan bila ditelusuri lebih dalam memang terdapat perbedaan yang cukup besar, malah bertolak belakang, namun bukan berarti masing-masing aliran tersebut tidak memiliki alasan aqli maupun naqli :
1. Dosa Besar
Penentuan seseorang yang melakukan dosa besar, apakah masih disebut mukmin atau sudah dikategorikan sebagai kafir, kiranya persoalan inilah yang menjadi perdebatan diantara aliran-aliran teologi Islam, walaupun sebenarnya dalam pengkategorian itu sangat erat kaitannya dengan cara pandang mereka terhadap Allah.
Menurut Khawarij orang Islam yang melakukan dosa besar seperti zina, dan membunuh manusia tanpa sebab telah termasuk orang kafir dan keluar dari Islam. Akan dimasukkan kedalam neraka selamanya, paham ini memanng mengalami perkembangan dibebarapa sekte Khawarij, namun pada hakikatnya bertititik tolak pada persoalan diatas, Sedangkan menurut Murjiah orang islam yang berdosa besar belum dikategorikan sebagai kafir, tetapi tetap sebagai mukmin, soal dosa besarnya diserahkan kepada keputusan Allah, Jika mendapat pengampunan dari Allah dia akan dimasukkan kedalam surga tetapi bila tidak dia akan dimasuksakan kedalam neraka sesuai berat dosa yang dilakukannya, setelah itu dia akan dimasukkan kedalam surga karena bagaimana pun dia masih mengakui adanya Allah serta pernah melakukan kebaikan.
Sedangkan Mu’tazilah berkeyakinan bahwa orang melakukan dosa besar bukan kafir dan bukan mukmin, tetapi mengambil posisi diantara kafir dan mukmin (al manzilah bainal manzilataini) .
Kemudian golongan Asy’ari mengemukakan bahwa orang yang berdosa besar adalah tetap mukmin, sebab keimanannya masih ada, tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq. Terserah kepada Allah apakah diampuniNya kemudian dimasukkan kedalam surga, atau di jatuhi siksa-siksa terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian dimasukkan kedalam surga. . Hal senada juga diyakini oleh kaum Maturidiah : bahwa orang yang melakukan dosa besar masih tetap mukmin dan soal dosa besarnya akan ditentukan kelak di akhirat.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa Murjiah, Asy’ariah dan Maturidiah memahami bahwa pelaku dosa besar, tetap mukmin, apakah kelak Allah akan mengampuni dosa yang telah dilakukannya itu tergatung pada keputusan Allah, dan bila Allah memberi ampunan maka yang bersngkutan akan masuk kedalam surga, tetapi bila tidak, tetaplah dia berada di dalam kobaran api neraka.
Pendapat ini sangat berseberangan dengan pendapat golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, tetapi menurut khawarij pelaku dosa harus dibunuh dan akan dimasukkan kedalam neraka selamanya, sedangkan Mu’tazilah berpendapat pelaku dosa besar tidak di neraka tetapi tidak juga di surga.
2. Sifat Allah
Mu’tazilah menetapkan bahwa Allah tidak memiliki sifat diluar Zat-Nya, Zat-Nya terisi sendiri (self contained) dan tidak memerlukan sifat-sifat yang terpisah. Jika Allah dianggap memilki sifat yang terpisah dari Zat-Nya apakah sifat-sifat ini qadim atau tidak jika tidak qadim pasti itu bukan Allah, dan sebaliknya jika qadim, maka ada dua yang qadim, pertama Allah dan kedua sifat-Nya, ini juga suatu hal yang mustahil.dan bertentangan dengan Qs. Ar Rahman [25] : 27, dan secara logika bahwa bila dianggap Allah memilki sifat terpisah dari sifat-Nya, berarti ada senggang waktu ketika Allah belum memilki sifat dengan melekatnya sifat itu kepada Allah ,
Sedangkan menurut Asy’ari bahwa Sifat Allah itu Abadi, sifat-sifat itu sama sekali bukan Zat-Nya sama abadinya dengan Allah, dan sifat ini berada di luar Zat-NYa. Allah Maha mengetahui dengan Ilmu-Nya, bukan denngan Zat-Nya, begitu juga Allah itu berkuasa dengan sifat Qudrah-Nya, bukan dengan Zat-Nya.
Al Maturidi kemudian muncul dan menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah, tetapi ia mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang di luar Zat-Nya, bukan pula sifat-sifat yang berdiri pada Zat-Nya dan tidak pula terpisah dari Zat-Nya sifat-sifat tersebut tidak mempunyai eksistensi yang mandiri dari Zat-Nya, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa banyaknya sifat-sifat itu akan membawa kepada banyaknya yang qadim (kekal)
3. Perbuatan Manusia
Apakah manusia memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam perbuatannya?, Apakah kehendak dan kemauan manusia tidak dikalah oleh kehendak dan kemauan Allah?, Apakah kehendak Allah termasuk seluruh peristiwa dan perbuatan serta tiada satu pun dari peristiwa dan perbuatan ini kehendak Allah? Apabila kehendak Allah bersifat umum, lantas bagaimana menjelaskan kebebasan manusia?, sepertinya pertanyaan-pertanyaan diatas menjadi sumber perbedaan pendapat dalam aliran teologi Islam atau lebih jelasnya dapat dikatakan dimana posisi Allah dalam setiap tindakan hambaNya.
Mu’tazilah mengakui bahwa perbuatan manusia adalah sebenar-benarnya perbuatan manusia dan bukan perbuatan Allah, maka daya yang mewujudkan perbuatan itu juga daya manusia dengan pengertian Allah membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya, Allah menciptakan daya dalam diri manusia dan pada daya inilah bergantunng wujud perbuatan itu, dan bukan yang dimaksud bahwa Allah membuat perbuatan yang telah dibuat manusia. Manusia telah diberi wewenang untuk menentuka nasibnya sendiri, dia boleh menjalani dengan baik atau yang jelek tereserah kehendaknnya ,
Salah satu dalil naqli yang dipergunakan kaum Mu’tazilah dalam memperkuat argument ini yaitu dengan mengutif ayat Al Qur’an…. maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”… (QS. Al Kahfi : 29)
Argumen lain dalam menguatkan pendapat diatas Mu’tazilah mengatakan jika manusia tidak diberi hak kebebsan dalam melakukan perbuatannya, maka dia tidak bisa dianggap sebagai yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya, Jadi masalah pahala dan siksa menjadi tidak jelas dan akan menjadi jelas kedudukannya jika diakui bahwa manusia mempunyai andil terhadap perbuatannya.
Menurut konsep Asy’ariah bahwa manusia dipandang lemah, manusia dalam kelemahannya banyak bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah, Perbuatan manusia bukanlah diwujudkan manusia sendiri, tetapi diciptakan oleh Allah. Manusia bukanlah pencipta, karena tiada pencipta selain dari Allah. Tetapi dalam perwujudannya perbuatan manusia mempunyai bahagian, untuk mengambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kekuasaan mutlak Allah, al Asy’ary memakai istilah al kasb . Dasar teori ini adalah bahwa Allah merupakan pencipta segala perbuatan dan manusia hanya merupakan yang mewadahi dan memperoleh perbuatan-perbuatan tersebut, dan mizan (timbangan) ketaatan dan kemaksiatan juga bersandar kepada teori kasb (perolehan) ini, bukan penciptaan. Sejatinya setiap perbuatan yang dilakukan manusia memiliki dua sisi :
a) Penciptaan yang bersumber dari Allah dan disandarkan kepada-Nya.
b) Perolehan (kasb) dari sisi manusia dan dinisbahkan kepadanya.
Maturidiah berkeyakinan kasb disebabkan oleh potensi yang diberikan Allah kepada hamban-Nya, Seorang hamba sanggup untuk mengerjakan perbuatan dengan potensi yang diciptakan dalam dirinnya, dan dengan potensi itu ia dapat tidak mengerjakan perbuatan itu, Ia sepenuhnya bebas memilih dengan kasb itu. Jika ia menghendaki, maka ia dapat berbuat dan perbuatan itu bersamaan dengan perbuatan yang diciptakan Allah dan jika hamba itu menghendaki meninggalnya, maka ia akan meninggalkan perbuatan itu, Dengan adanya kasb itulah maka ada pahala dan siksa, dan ketika itulah keberadaan Allah sebagai pencipta perbuatan hamba tidak saling menafikan dengan ikhtiar mereka. Kemampuan (isthitho’ah) yang berpengaruh pada kasb ini dan isthitho’ah ini ada ketika perbuatan dilakukan .
Pemikiran ini hampir sama dengan al Asy’ary namun mereka berbeda pada saat menetapkan kasb itu sesuatu yang diciptakan Allah bersamaan dengan ikhtiar atau tidak, Maturidiah berpendapat bahwa kasb itu semata diwujudkan oleh manusia itu sendiri, dalam masalah ini Maturidiah lebih dekat dengan konsep Mu’tazilah yang secara tegas mengatakan bahwa semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri.
4. Keadilan Allah
Mu’tazilah meninjau keadilan Allah dari sudut pendangan manusia, Keadilan erat kaitannya hak, dan keadilan diartikan memberi seseorang dengan haknya, Allah itu adil mengandung pengertian bahwa segala sesuatu perbuatan Allah adalah baik, bahwa ia tidak dapat berbuat buruk, bahawa ia tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibannya kepada manusia, oleh karena itu Allah tidak dapat bersifat zalim dalam memberikan hukuman, tidak dapat menghukum anak orang musyrik lantaran dosa orang tuanya, tidak dapat meletakkan beban yang tak dapat dipikul oleh manusia, dan mesti memberi upah kepada orang yang patuh pada-Nya, dan memberi hukuman kepada orang yang tidak patuh pada perintah-Nya, selanjutnnya keadilan juga mengandung arti berbuat menurut semestinya serta sesuai dengan kepentingan manusia dan memberi upah dan hukuman kepada manusia sejajar dengan corak perbuatannya.
Pendapat yang berseberangan dengan ini dikemukan oleh Asy’ariah yang mengartikan keadilan yaitu menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya dengan maksud Allah yang mempunyai kekkuasaan mutlak terhada segala seusatu yang dimilkinya dan mempergunakannyapun sesuai dengan kehendak dan pengetahui pemiliknnya yaitu Allah. Oleh Karena itu Allah dalam faham Asy’ariah dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, sungguh pun menurut pandangan manusia Allah tidak adil
Maturidiah Bukhara mengambil posisi yang lebih dekat dengan kepada posisi Asy’ariah Sedangkan Maturidiah Samarkand lebih mengambil posisi yang lebih dekat kepada kaum Mu’tazilah
Jadi jelaslah bahwa pada prinsipnnya pandangan mereka terhadap keadilan Allah sangat erat kaitannya dengan cara pandang mereka terhadap kebebasan manusia dalam bertindak bila dihadapkan dengan posisi Allah dalam setiap tindakan itu. Karenanya mu’tazilah dan Maturidiah samarkand memandang keadilan itu dari sudut dan posisi manusia, sedangkan Asy’ariah dan Maturidiah Bukhara lebih mendekatkan pemahaman tentang keadilan Allah dari sudut otoritas Allah terhadap segala tindakan manusia.

III. PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Khawarij, Murjiah dan Mu’tazilah bahwa pelaku dosa besar dikategaorikan sebagai kafir, tempat mereka kelak di kemudian hari adalah neraka kecuali pendapat mu’tazilah yang menyebutnya diantara dua tempat, dan sangat berbeda dengan Asy‘ariyah dan Maturidiah yang menggolongkannya mukmin, dan jika Allah memberi ampunan dia akan masuk surga dan sebaliknya.
Mengenai sifat Allah Mu’tazilah berpendapat bahwa sifat Allah sesuatu yang qadim sama dengan qadimnya Allah, dan menurut Asy’ariah sifat berada diluar Zat-Nya dan sifat itu sama qadimnya dengan Zat-nya, Allah mengetahui dengan sifat ilmuNya, bukan dengan Zat-Nya, sedangkan Maturidiah mengambil pendapat antara Mu’tazilah dan Asy’ariah
Berkenaan dengan perbuatan manusia mu’tazilah mengakui bahwa seluruh perbuatan manusia adalah hasil perbuatan manusia itu sendiri, berbeda dengan Asy’ariah yang berpendapat bahwa perbuatan itu adalah atas kehendak Allah, dengan teory kasb. Perbuatan manusia di ukur dari dua sisi ciptaan Allah dan sisi manusia. Maturidiah mengambil posisi kasb dan perbuatan manusia itu sama ciptaan Allah.
Menurut Mu’tazilah dan Maturidiah Samarkand mengartikan keadilan itu bahwa Allah berbuat menurut kepentingan manusia dan memberi upah dan hukuman kepada manusia sejajar dengan corak perbuatannya. Sedangkan pendapat Asy’ariah dan Maturidiah Bukhara mengartikan adil bahwa Allah bebas berbuat apa saja yang dikehendakiNya, sungguh pun menurut pandangan manusia Allah tidak adil.
2. Saran-Saran
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan maka untuk itu kami sangat membutuhkan masukan, dan kritikan konstruktif demi sempurnya makalah ini

DAFTAR PUSTAKA

A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 1995) h.109-110
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan terjemahannya
Harun Nasution, Islam: di tinjau dari berbagai aspeknya (Jakarta : UI Pres, 1986)
——————, Teologi Islam : aliran-aliran, sejarah analisa perbandingannya (Jakarta : UI Press, 1986)
Nadvi, Muzaffaruddin, Pemikiran Muslim dan Sumbernya, (Pustaka : Jakarta, 1984)
Syahrastani, Muhammad ibn Abd. Karim, Milal wan Nihal, Ed. Muhammad Ibn al Fath Allah Al Bardan, Kairo:1951)
www. wisdoms4all.com/ind.
Zahrah, Abu Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah Dalam Islam, Terj. Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, (Jakarta : Logos, 1996 )

SKALA PENGUKURAN

Oleh : Marasakti Bangunan

NIM. 08 KOMI 1374

A      PENDAHULUAN

Seperti diketahui bahwa statistika diterapkan untuk mengumpulkan menyajikan menganalisis dan menginterpretasikan data. Data yang dikumpulkan dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Statistika  khususnya bekerja dangan data kuantitatif atau data kualitatif yang sudah dikuantitatifkan dengan berbagai cara.

Data kuantitatif adalah fakta yang dipresentasikan dengan angka. Misalnya penghasilan keluarga dalam rupiah (Rp), berat sapi dalam Kg, tinggi badan dalam Cm, lama hidup suatu mikroorganisme dalam jam dan sebagainya. Data kualitatif adalah fakta yang dinyatakan dalam bentuk sifat (bukan angka). Misalnya  jenis kandang ternak yaitu kandang induk, kandang pejantan, kandang anak,kandang penggemukan dan sebagainya. Data kualitatif dapat kita kuantitatifkan antara lain denagn cara memberi skor, rangking, variable boneka (dummy variable) dan sebagainya.

Data dapat diukur secara langsung dan tidak sedikit data yang tidak dapat diukur secara langsung. Untuk data yang tidak dapat diukur secara langsung harus dibuat secara operasional sehingga dapat diukur. Operasionalisasi ini berarti harus diusahakan untuk memecah atau menguraikan pengertian itu dalam sejumlah demensi yang dapat diukur. Misalnya operasionalisasi status social ekonomi masyarakat menjadi demensi pendapatan dan demensi pekerjaan. Dalam mengukur fakta validitas pengukuran harus diusahakan sebaik mungkin. Sebagai contoh apakah daging ayam yang diawetkan dengan suatu zat pengawet masih disenangi oleh konsumen, dapat diukur dengan skala pengukuran sangat disukai, disukai, sedikit suka, suka, biasa saja, sedikit tidak suka, tidak suka dan sangat tidak suka. jika mengukur berat kambing maka dapat digunakan timbangan yang sudah punya skala. Demikian juga untuk mengukur suhu tubuh dapat digunakan thermometer yang sudah ada skalanya.

Skala pengukuran ini dibagi menjadi empat macam, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala ratio,  disamping itu masih ada skala lain yang lazim digunakan untuk penelitian ilmu-ilmu social dan komunikasi[1], antara lain yang paling popular Seperti Skala Likert , Skala Guttman, Semantic Differential dan. Rating Scale.

B       PEMBAHASAN

  1. 1. Skala Pengukuran

Skala dapat diartikan garis atau titik tanda yang berderet-berderet  dan sebagai­nya yang sama jarak antaranya, dipakai untuk mengukur atau menentukan tingkatan atau banyaknya  sesuatu[2] . Jadi skala merupakan prosedur pemberian angka-angka atau symbol lain kepada sejumlah ciri dari suatu objek[3]

Pengukuran adalah proses, cara perbuatan mengukur[4] yaitu suatu proses sistimatik dalam menilai dan membedakan sesuatu obyek yang diukur atau pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu. Pengukuran tersebut diatur menurut kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah yang berbeda menghendaki skala serta pengukuran yang berbeda pula.[5] Misalnya, orang dapat digambarkan dari beberapa karakteristik: umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, tingkat pendapatan.

Tiga buah kata kunci yang diperlukan dalam memberikan definisi terhadap konsep pengukuran. Kata-kata kunci tersebut adalah angka, penetapan, dan aturan. Pengukuran yang baik, harus mempunyai sifat isomorphism dengan realita. Prinsip isomorphism, artinya terdapat kesamaan yang dekat antara realitas sosial yang diteliti dengan ”nilai” yang diperoleh dari pengukuran. Oleh karena itu, suatu instrumen pengukur dipandang baik apabila hasilnya dapat merefleksikan secara tepat realitas dari fenomena yang hendak diukur.

Skala pengukuran merupakan seperangkat aturan yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan data dari pengukuran suatu variable. Dalam melakukan analisis statistik, perbedaan jenis data sangat berpengaruh terhadap pemilihan model atau alat uji statistik. Tidak sembarangan jenis data dapat digunakan oleh alat uji tertentu. Ketidaksesuaian antara skala pengukuran dengan operasi matematik /peralatan statistik yang digunakan akan menghasilkan kesimpulan yang bias dan tidak tepat/relevan.

a) . Skala Nominal

Skala pengukuran nominal digunakan untuk menklasifikasi obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidak-adanya karaktersitik tertentu. Skala nominal akan menghasilkan data yang disebut data nominal atau data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari mengkategorikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari objek yang diobservasi

Skala Nominal merupakan skala yang paling lemah/rendah di antara keempat skala pengukuran. Sesuai dengan nama atau sebutannya, skala nominal hanya bisa membedakan benda atau peristiwa yang satu dengan yang lainnya berdasarkan nama (predikat). Sebagai contoh, klasifikasi barang yang dihasilkan pada suatu proses produksi dengan predikat cacat atau tidak cacat. Atau, bayi yang baru lahir bisa laki-laki atau perempuan. Tidak jarang digunakan nomor-nomor yang dipilih sekehendak hati sebagai pengganti nama-nama atau sebutan-sebutan, untuk membedakan benda-benda atau peristiwa-peristiwa berdasarkan beberapa karakteristik.. Skala nominal biasanya juga digunakan bila peneliti berminat terhadap jumlah benda atau peristiwa yang termasuk ke dalam masing-masing kategori nominal. Data semacam ini sering disebut data hitung ( count data) atau data frekuensi. Contoh lain yang dapat mendekatkan pemahaman kita terhadap skala pengukuran nominal dapat dilihat sebagai berikut : Pertama :Penggunaan nomor “1” untuk menyebut kelompok barang yang cacat dari suatu proses produksi dan nomor “0” untuk menyebut kelompok barang yang tidak cacat dari suatu proses produksi,  Kedua :Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan “tidak” diberi angka 2.

b) . Skala Ordinal (Ranking)

Skala Ordinal terjadi bila obyek yang ada dalam satu katagori suatu skala tidak hanya berbeda dengan obyek-obyek itu, tetapi juga mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Hubungan yang ada biasa kita jumpai diantara kelas-kelas adalah : lebih tinggi, lebih disenangi, lebih sering, lebih sulit, lebih dewasa dan sebagainya

Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.

Pengukuran yang dilakukan dalam skala ordinal adalah obyek dibedakan menurut persamaanya dan menurut urutannya. Jadi dapat dibuat urutan atau rangking yang lengkap dan teratur diantar kelas-kelas.

Skala Ordinal adalah skala yang merupakan tingkat ukuran kedua, yang berjenjang sesuatu yang menjadi ‘lebih’ atau ‘kurang’ dari yang lainnya,  ukuran ini digunakan untuk mengurutkan objek dari yang terendah hingga tertinggi dan sebaliknya yang berarti peneliti sudah melakukan pengukuran terhadap variable yang diteliti. Contoh : mengukur kejuaraan olah raga, prestasi kerja, senioritas pegawai. Misalnya : Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.

Skala ordinal, lambang-lambang bilangan hasil pengukuran menunjukkan urutan atau tingkatan obyek yang diukur menurut karakteristik yang dipelajari. Misal, kita ingin mengetahui preferensi responden terhadap merek indomie goreng: merek Sarimi, Indomie, Mie Sedap, Gaga Mie kemudian responden diminta untuk melakukan ranking terhadap merek mie goreng dengan memberi angka 1 untuk merek yang paling disukai, angka 2 untuk rangking kedua, dst. Rangkuman hasil  Rangking Merek mie goreng  sebagai berikut : Indomie = 1 ,  Mie Sedap = 2,  Sarimi = 3, Gaga Mie = 4

Tabel ini menunjukkan  bahwa merek Indomie lebih disukai daripada Mie Sedap, merek Mie Sedap lebih disukai daripada Sarimi, dsb. Walaupun perbedaan angka antara preferensi satu dengan lainnya sama, namun kita tidak dapat menentukan besarnya nilai preferensi dari suatu merek terhadap merek lainnya. Uji statistik yang sesuai adalah modus, median, distribusi frekuensi dan statistik non-parametrik seperti rank order correlation.

Skala Ordinal ini lebih tinggi daripada skala nominal, dan sering juga disebut dengan skala peringkat. Hal ini karena dalam skala ordinal, lambang-lambang bilangan hasil pengukuran selain menunjukkan pembedaan juga menunjukkan urutan atau tingkatan obyek yang diukur menurut karakteristik tertentu[6]. Misalnya tingkat kepuasan seseorang terhadap produk. Bisa kita beri angka dengan 5=sangat puas, 4=puas, 3=kurang puas, 2=tidak puas dan 1=sangat tidak puas. Atau misalnya dalam suatu lomba, pemenangnya diberi peringkat 1,2,3 dstnya.

Dalam skala ordinal, tidak seperti skala nominal, ketika kita ingin mengganti angka-angkanya, harus dilakukan secara berurut dari besar ke kecil atau dari kecil ke besar. Jadi, tidak boleh di buat 1=sangat puas, 2=tidak puas, 3=puas dstnya. Yang boleh adalah 1=sangat puas, 2=puas, 3=kurang puas dstnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan dari karakteristik skala ordinal adalah meskipun nilainya sudah memiliki batas yang jelas tetapi belum memiliki jarak (selisih). Kita tidak tahu berapa jarak kepuasan dari tidak puas ke kurang puas. Dengan kata lain juga, walaupun sangat puas kita beri angka 5 dan sangat tidak puas kita beri angka 1, kita tidak bisa mengatakan bahwa kepuasan yang sangat puas lima kali lebih tinggi dibandingkan yang sangat tidak puas.

Sebagaimana halnya pada skala nominal, pada skala ordinal kita juga tidak dapat menerapkan operasi matematika standar (aritmatik) seperti pengurangan, penjumlahan, perkalian, dan lainnya. Peralatan statistik yang sesuai dengan skala ordinal juga adalah peralatan statistik yang berbasiskan (berdasarkan) jumlah dan proporsi seperti modus, distribusi frekuensi, Chi Square dan beberapa peralatan statistik non-parametrik lainnya

c) . Skala Interval

Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. perbedaan karakteristik antara obyek yang berpasangan dengan lambang bilangan satu dengan lambang bilangan berikutnya selalu tetap. Jika dalam pengukuran preferensi responden terhadap merek indomie goreng tersebut diasumsikan bahwa urutan kategori menunjukkan preferensi yang sama, maka kita dapat mengatakan bahwa perbedaan indomie goreng merek urutan ke 1 dengan 2 adalah sama dengan perbedaan merek 2 dengan lainnya. Namun demikian, kita tidak bisa mengatakan 3 bahwa merek yang mendapat ranking 5 nilainya lima kali preferensi daripada merek 1. Uji statistik yang sesuai adalah semua uji statistik kecuali uji yang mendasarkan pada rasio seperti koefisien variasi.

Dengan demikian, skala interval sudah memiliki nilai intrinsik, sudah memiliki jarak, tetapi jarak tersebut belum merupakan kelipatan. Pengertian “jarak belum merupakan kelipatan” ini kadang-kadang diartikan bahwa skala interval tidak memiliki nilai nol mutlak. Angka 0 (nol) untuk thermometer memiliki makna yang sangat berpengaruh dan bukan berarti dapat diabaikan.

Misalnya pada pengukuran suhu. Kalau ada tiga daerah dengan suhu daerah A = 10oC, daerah B = 15oC dan daerah C=20oC. Kita bisa mengatakan bahwa selisih suhu daerah B, 5oC lebih panas dibandingkan daerah A, dan selisih suhu daerah C dengan daerah B adalah 5oC. (Ini menunjukkan pengukuran interval sudah memiliki jarak yang tetap). Tetapi, kita tidak bisa mengatakan bahwa suhu daerah C dua kali lebih panas dibandingkan daerah A (artinya tidak bisa jadi kelipatan). Kenapa ? Karena dengan pengukuran yang lain, misalnya dengan Fahrenheit, di daerah A suhunya adalah 50oF, di daerah B = 59oF dan daerah C=68oF. Artinya, dengan pengukuran Fahrenheit, daerah C tidak dua kali lebih panas dibandingkan daerah A, dan ini terjadi karena dalam derajat Fahrenheit titik nolnya pada 32, sedangkan dalam derajat Celcius titik nolnya pada 0. [7]

d) . Skala Rasio

Skala rasio adalah skala data dengan kualitas paling tinggi. Pada skala rasio, terdapa semua karakteristik skala nominal,ordinal dan skala interval ditambah dengan sifat adanya nilai nol yang bersifat mutlak. Nilai nol mutlak ini artinya adalah nilai dasar yang tidak bisa diubah meskipun menggunakan skala yang lain. Oleh karenanya, pada skala ratio, pengukuran sudah mempunyai nilai perbandingan/rasio. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya. Pengukuran-pengukuran dalam skala rasio yang sering digunakan adalah pengukuran tinggi dan berat. Misalnya Berat : Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2. atau berat benda A adalah 30 kg, sedangkan benda B adalah 60 kg. Maka dapat dikatakan bahwa benda B dua kali lebih berat dibandingkan benda A.

Dua skala Pengukuran Pertama (Nominal dan Ordinal) adalah skal pengukuran Kualitatif karena karakteristiknya tidak namuric, (contoh : Jenis Kelamin, pekerjaan, dan lain-lain). sedangkan dua skala terakhir (Interval dan Rasio) adalah skala kuantitatif  yang diekspresikan lewat numeric[8] (contoh : berat, tinggi, biaya, pendapatan dan lain-lain)

  1. 2. Skala Pengukuran Untuk Instrument

Keempat skala diatas jika akan digunakan dalam kuisioner dapat dilakukan dengan pendekatan, misalnya  Skala Likert , Skala Guttman, dan Semantic Differential,  Rating Scale[9]

a) . Skala Likert

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain: Sangat Penting (SP), Penting (P), Ragu-ragu (R), Tidak Penting (TP), Sangat Tidak Penting (STP). Untuk penilaian ekspektasi pelanggan, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:  Sangat Penting (SP) = 5,  Penting (P)= 4, Ragu-ragu (R) : 3,  Tidak Penting (TP) : 2 , Sangat Tidak Penting (STP) : 1. sedangkan untuk penilaian persepsi pelanggan, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya: Sangat Baik (SB) :  5, Baik (B) :  4, Ragu-ragu (R):  3,   Tidak Baik (TB) :  2 Sangat Tidak Baik (STB) :  1

Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.  Keuntungan skala Likert adalah :

1)      Mudah dibuat dan diterapkan

2)      Terdapat kebebasan dalam memasukkan pertanyaan-pertanyaan, asalkan mesih sesuai dengan konteks permasalahan

3)      Jawaban suatu item dapat berupa alternative, sehingga informasi mengenai item tersebut diperjelas.

4)      Reliabilitas pengukuran bisa diperoleh dengan jumlah item tersebut diperjelas[10]

b) . Skala Guttman

Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapatkan jawaban yang tegas. diantaranya : ‘ya’ dan ‘tidak’; ‘benar-salah’, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi, kalau pada Skala Likert terdapat 1,2,3,4,5 interval, dari kata ‘sangat setuju’ sampai ‘sangat tidak setuju’, maka pada Skala Guttman hanya ada dua interval yaitu ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’. Penelitian menggunakan Skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.[11]

Jenis skala ini hanya mengukur satu dimensi dari satu variabel yang memiliki beberapa dimensi. Misalnya seorang peneliti ingin mengumpulkan data tentang kebutuhan mahasiswa, ditentukan 4 macam kebutuhan yaitu : Berteman, Belajar, Rekreasi dan istirahat, salah satu dimensi dari keempat dimensi tadi akan dibagi menjadi 5 pernyataan dalam kuesioner. Maka Skala Guttman akan menggunakan kelima pernyataan tersebut sebagai item :

Contoh : dimensi belajar dibagi menjadi 5 pernyataan (dari kebutuhan yang paling rendah dahulu) :

1)      Untuk mencari ilmu

2)      untuk melanjutkan pendidikan

3)      Untuk mendapatkan gelar

4)      Untuk mendapatkan ijazah

5)      Untuk syarat dalam mencari kerja

Hirarki kebutuhan

1.)    Kebutuhan akan syarat mencari kerja

2.)    Kebutuhan akan ijazah

3.)    Kebutuhan akan gelar

4.)    Kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan

5.)    Kebutuhan akan ilmu

Dalam bentuk pertanyaan :

1.)    Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan anda dalam mencari ilmu ? (Ya / Tidak)

2.)    Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan anda dalam melanjutkan pendidikan ? (Ya / Tidak)

3.)    Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan gelar ? (Ya / Tidak)

4.)    Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan ijazah ? (Ya / Tidak)

5.)    Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan anda dalam memenuhi syarat mencari kerja ? (Ya / Tidak)

Hasil penilaian dari 10 responden. diatur dari kiri ke kanan, mulai dari pertanyaan yang paling banyak memiliki jawaban YA (positif) sampai yang paling sedikit

RESPONDEN PERTANYAAN TOTAL
5 4 3 2 1
A X X 2
B X X 2
C X X 2
D X X X X 4
E X X X X 4
F X X X X X 5
G X X X X X 5
H X X X X X 5
I X X X X X 5
J X X X 3
TOTAL  : YA 9 8 7 7 6 37

c) . Semantic Differential

Skala ini merupakan salah satu dari skala factor yang dikembangkan untuk menganalisis dua masalah :

  • Pengukuran populasi dan multidimensional
  • Pengungkapan dimensi yang belum dikenal atau belum diketahui

Metode skala ini dikembangkan  khususnya untuk mengukur arti psikologis dari suatu objek di mata seseorang. Metode ini didasarkan pada proporsi bahwa suatu objek memiliki berbagai dimensi pengertian konotatif yang berada dalam ruang cirri multidimensi yang disebut ruang semantic.

Metode ini dibuat dengan menempatkan dua (dua) skala penilaian dalam titik ekstrim yang berlawanan  yang biasa disebut bipolar. Biasanya di antara titik ekstrim di dadapati 5 atau 7 tititk-titik butir skala dimana responden menilai suatu konsep atau lebih pada setiap butir skala.

Untuk lebih jelasnya tampilan butir-butir skala semantic diffrensial sebagai berikut :

Baik                 —–, ——, ——,  ——, ——, ——-, ——                   Buruk

Lambat            —–, ——, ——,  ——, ——, ——-, ——                   Cepat

Skala pengukuran yang berbentuk Semantic Differensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun  checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinu yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis, dan jawaban “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.

d) . Rating Scale

Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan Rating Scale, data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif[12]. Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah atau tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala model Rating Scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu Rating Scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain.Yang penting dalam Rating Scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2. Contoh “Beri tanda silang (x) pada angka yang sesuai dengan penilaian Anda terhadap pelayanan PT. Telkomsel !”

Sangat                                                                                                             Sangat

Buruk                                                                                                  Baik

1          2          3          4          5          6          7          8          9          10

Rating Scale adalah alat pengumpul data yang digunakan dalam observasi untuk menjelaskan, menggolongkan, menilai individu atau situasi Rating Scale adalah alat pengumpul data yang berupa suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku/sifat yang harus dicatat secra bertingka.  Rating Scale merupakan sebuah daftar yang menyajikan sejumlah sifat atau sikap sebagai butir-butir atau item. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan pengertian Rating Scale adalah salah satu alat untuk memperoleh data yang berupa suatu daftar yang berisi tentang sfat/ciri-ciri tingkah laku yang ingin diselidiki yang harus dicatat secara bertingkat.

Penilaian yang diberikan oleh observer berdasarkan observasi spontan terhadap perilaku orang lain, yang berlangsung dalam bergaul dan berkomunikasi sosial dengan orang itu selama periode waktu tertentu. Unsur penilaian terdapat dalam pernyataan pandangan pribadi dari orang yang menilai subyek tertentu pada masing-masing sifat atau sikap yang tercantum dalam daftar. Penilaian itu dituangkan dalam bentuk penentuan gradasi antara sedikit sekali dan banyak sekali atau antara tidak ada dan sangat ada.

Karena penilaian yang diberikan merupakan pendapat pribadi dari pengamat dan bersifat subyektif, skala penilaian yang diisi oleh satu pengamat saja tidak berarti untuk mendapatkan gambaran yang agak obyektif tentang orang yang dinilai. Untuk itu dibutuhkan beberapa skala penilaian yang diisi oleh beberapa orang, yang kemudian dipelajari bersama-sama untuk mendapatkan suatu diskripsi tentang kepribadian seseorang yang cukup terandalkan dan sesuai dengan kenyataan.

  • Kegunaan Pemakaian Rating Scale

Hasil observasi dapat dikuantifikasikan beberapa pengamat menyatakan penilaiannya atas seorang siswa terhadap sejumlah alat/sikap yang sama sehingga penilaian-penilaian itu ( ratings ) dapat dikombinasikan untuk mendapatkan gambaran yang cukup terandalkan.

  • Kesalahan-kesalahan dalam Rating Scale

1)      Pengamat membuat generalisasi mengenai sikap atau sifat seseorang karena bergaul akrab dengan siswa

2)      Pengamat tidak berani untuk memberikan penilaian sangat baik atau sangat kurang dan karena itu menilai suatu item dalam daftar pada gradasi cukupan (error ofcentral tendency ).

3)      Pengamat membiarkan dirinya terpengaruh oleh penilaiannya terhadap satu dua sikap atau sifat yang dinilai sangat baik atau sangat kurang, sehingga penilaiannyaterhadap item-item lain cenderung jatuh pula pada gradasi sangat baik atau sangat kurang ( hallo effect ). Misalnya bila guru sudah mempunyai kesan negatif terhadap seorang siswa ( A ) yang penampilannya kurang menarik dan kemudian memilih gradasi kurang pada item-item yang lain.

4)      Pengamat tidak menangkap maksud dari butir-butir dalam daftar dan kemudian mengartikannya menurut interprestasi sendiri ( logical error )

5)      Pengamat kurang memisahkan jawaban terhadap butir yang satu dari jawaban terhadap butir yang lain ( carry over effect ).

  • Bentuk-bentuk Rating Scale : Terdapat beberapa bentuk rating scale antara lain :

1)      Skala Numerik/Kwantitatif

Skala ini menggunakan angka-angka ( skor-skor ) untuk menunjukan gradasi-gradasi, disertai penjelasan singkat pada masing-masing angka.

2)      Skala Penilaian Grafis.

Skala menggunakan suatu garis sebagai kontinum. Gradasi-gradasi ditunjuk pada garis itu dengan menyajikan deskripsi-deskripsi singkat di bawah garisnya Pengamat memberikan tanda silang di garis pada tempat yang sesuai dengan gradasi yang dipilih.

3)      Daftar Cek. Skala ini mempunyai item dalam tes hasil belajar, bentuk obyektif dengan type pilihan berganda ( multiple choice ). Pada masing-masing sifat atau sikap yang harus dinilai, disajikan empat sampai lima pilihan dengan deskripsi singkat pada masing-masing pilihan. Pengamat memberikan tanda cek pada pilihan tertentu di ruang yang disediakan.

  1. 3. Validitas dan Reliabilitas

a) . Validitas

Suatu skala pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya skala nominal yang bersifat non-parametrik digunakan untuk mengukur variabel nominal bukan untuk mengukur variabel interval yang bersifat parametrik.[13] Ada 3 (tiga) tipe validitas pengukuran yang harus diketahui, yaitu:

1)      Validitas Isi (Content Validity)

Validitas isi menyangkut tingkatan dimana item-item skala yang mencerminkan domain konsep yang sedang diteliti. Suatu domain konsep tertentu tidak dapat begitu saja dihitung semua dimensinya karena domain tersebut kadang mempunyai atribut yang banyak atau bersifat multidimensional.

2)      Validitas Kosntruk (Construct Validity)

Validitas konstruk berkaitan dengan tingkatan dimana skala mencerminkan dan berperan sebagai konsep yang sedang diukur. Dua aspek pokok dalam validitas konstruk ialah secara alamiah bersifat teoritis dan statistik.

3)      Validitas Kriteria (Criterion Validity)

Validitas kriteria menyangkut masalah tingkatan dimana skala yang sedang digunakan mampu memprediksi suatu variable yang dirancang sebagai kriteria.

b) . Reliabilitas

Reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu. Reliabilitas berkonsentrasi pada masalah akurasi pengukuran dan hasilnya. Reliabilitas dapat dibagi kepada tiga yaitu : Test Retest Reliabilitas  Yaitu dua jenis kelompok yang diukur dengan alat ukur yang sama kemudian di korelasikan., Paralel/Alternative Form Reliabilitas  yaitu 2 bentuk yang serupa tapi tak sama hasil dibandingkan dan Split Half Realiability mencakup sejauhmana item insttrument bersifat homogen dan konstruk yang sama yang melandasinya.[14]

C KESIMPULAN

Data yang dikumpulkan penelitian dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif, data kuantitatif dipresentasikan dengan namuric, dan data kualitatif dinyatakan dengan non numeric. Jika data kualitatif ingin di analisis maka data tesebut harus dikuantitatif dengan cara memberi skore, rangking dan lain-lain.

Pada sisi lain ada data yang langsung dapat diukur dan ada pula yang tidak. Data yang tidak dapat diukur secara langsung, harus di proses sehingga secara operasional dapat diukur. Ada 4 skala pengukuran yang dapat dilakukan dalam mengukur data yang diperoleh : Pertama, skala Nominal yaitu  mengklasifikasi, memberi nama dan menghitung fakta-fakta, skala ini hanya sebatas membedakan, Kedua, Skala Ordinal yaitu selain mengklasifikasikan,  pada skala ini data telah dapat direngking. Selisih/jarak rengking belum dapat dibandingkan secara tetap. Ketiga, skala Interval yaitu selain memiliki karakteristik nominal dan ordinal, pada skala ini data diwujudkan dalam bentuk interval yang tetap namum belum memiliki nilai nol yang mutlak . Keempat, skala Rasio yaitu selain mencakup karakteristik nominal, ordinal, dan interval, skala ini telah memiliki nilai nol yang mutlak.

Untuk menuangkan keempat skala ini dalam kuisioner dapat dilakukan dengan pendekatan Skala Likert , Skala Guttman, Semantic Differential, Rating Scale, dan lain-lain  Suatu skala pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dan skala pengukuran dikatakan Reliabel jika hasil skala pengukuran memiliki konsistensi dan stabilitas nilai.

DAFTAR BACAAN

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Edisi Ketiga Balai Pustaka : Jakarta, 2005

Hermawan, Asep,  Penelitian Bisnis: Paradigma Kuantitatif, Grasindo: Jakarta,  2004

Kholil, Syukur Methodologi Penelitian Kamunikasi, Ciptapustaka, Bandung : 2006

Purwoto, Agus,  Panduan Lab. Statistic Inferensial, Grasindo,Jakarta, 2007

Siagian, Dergibson dkk, Metode Statistik Untuk Bisnis dan Ekonomi, Gramedia, Jakarta : 2000

Sugiarto, Strategi Menaklukkan Pasar Melaui Riset Ekuitas dan Prilaku Merk Gramedia : Jakarta , 2004

Simamora, Bilson, Anallisis Multivariat Pemasaran Jakarta : Gramedia, 2004

Umar, Husein, Methode Riset Bisnis, Jakarta, Gramedia, 2002


[1] Syukur Kholil, Methodologi Penelitian Kamunikasi, (Bandung : Ciptapustaka, 2006) h. 142

[2] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Edisi Ketiga (Jakarta : Balai Pustaka, 2005) h. 1078

[3] Husein Umar, Methode Riset Bisnis, (Jakarta, Gramedia, 2002) h. 95

[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar h.1239

[5] Husein Umar, Methode … h. 95

[6] Syukur Kholil, Methodologi Penelitian … h. 142

[7] Dergibson Siagian, dkk, Metode Statistik Untuk Bisnis dan Ekonomi, Jakarta : Gramedia, 2000) h. 22-23

[8] Sugiarto, Strategi Menaklukkan Pasar Melaui Riset Ekuitas dan Prilaku Merk (Jakarta : Gramedia, 2004) h. 20

[9] Dergibson Siagian, dkk, Metode Statistik …h. 98

[10] Asep Hermawan, Penelitian Bisnis: Paradigma Kuantitatif (Jakarta : Grasindo, 2004)  h. 126

[11] Bilson Simamora, Anallisis Multivariat Pemasaran (Gramedia : Jakarta, 2004) h. 21

[12] Ibid …22

[13] Asep Hermawan, Penelitian Bisnis … h. 128

[14] Agus Purwoto, Panduan Lab. Statistic Inferensial, (Jakarta, Grasindo, 2007) h. 11

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

December 2016
M T W T F S S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 33,521 hits

Pages